Beranda > Katekese Umum > Renungan singkat

Renungan singkat

HOW MY PARISH FOUGHT OFF AN INVASION                                                                   Bagaimana Jemaatku Berjuang Melawan Sebuah Invasi                                                     Romo. Edward C. Petty

Di bulan Juni 1992, aku ditugaskan untuk menggembalakan salah satu dari jemaat terbesar di keuskupan Midwest. Mereka adalah jemaat sebuah kota kecil / semi kota, tapi hampir semua penduduk di lingkungan tersebut punya darah Jerman dan Irlandia, 90 persen penduduk di daerah tersebut beragama Katolik.

Pastor pendamping [di paroki-ku] juga orang baru. [Dia] datang pada saat yang bersamaan dan kami mendapatkan kecocokan dalam masalah-masalah mendasar di bidang teology dan pengaturan administrasi, kemudian kami menetapkan target tahun pertama bersama-sama. Salah satunya adalah meningkatkan jumlah umat yang mengikuti Misa Minggu. [Caranya] dengan memberikan liturgi yang durasinya cukup dan, meskipun tidak selalu bisa indah, paling sedikit selalu dipersiapkan dengan baik, homili-homili, dalam beberapa bulan, kami berhasil mencapai target kami yaitu mendapatkan 75 persen umat datang ke Misa Minggu.

Akhir January 1993, ketika semua hal berjalan dengan baik dan kami sedang bersantai setelah serangkaian minggu Advent dan Natal yang berlangsung sukses, kami menerima sebuah tantangan yang tidak pernah kami perkirakan sebelumnya. Sebuah grup kecil dari golongan Fundamentalis menyewa sebuah gedung bioskop yang sudah tidak dipakai lagi dan membuka gereja mereka sendiri. Dalam kelompok mereka ada beberapa mantan umat Katolik, dan mereka inilah yang lebih agresif dalam memasuki lingkungan kami.

Setiap keluarga dari jemaat paroki Lutheran menerima sebuah surat undangan untuk meninggalkan konggregasi Lutheran mereka dan bergabung dengan Gereja yang “Percaya Pada Alkitab” dan “Tumbuh Dengan Cepat”. Namun [sebenarnya] umat Katolik di paroki kami-lah yang sesungguhnya mereka kejar. Mereka dengan gamblang menyatakan bahwa kota kami ditargetkan karena [kota kami] mayoritas adalah umat Katolik, dan kelompok mereka telah sukses [merebut umat Katolik] di daerah-daerah [mayoritas] Katolik lainnya.

Dan perkataan mereka memang terbukti. Meskipun jumlah umat yang mengikuti misa tidak terlalu terpengaruh, tapi dengan katekisasi yang kurang memadai selama 30 tahun terakhir (banyak dari jemaat kami menjadi Katolik karena orang tua dan keluarga mereka). Mereka adalah “umat Katolik karena budaya” yang baik tetapi tidak tahu mengapa mereka percaya apa yang mereka percayai atau mengapa mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut sebagai orang-orang Katolik. Daerah ini memang kental ke-Katolik-annya sejak abad kesembilanbelas. Sedikit sekali dari para umat paroki, bahkan yang sepuh-sepuh, yang pernah mempertahankan iman mereka pada level intelektual. Lalu datanglah para Fundamentalist itu.

Kami memutuskan bahwa ada tiga pilihan untuk menghadapi situasi ini. Kami bisa tidak melakukan apapun, mengabaikan grup kecil ini, atau kami bisa mencoba untuk bersikap “baik” dan keluar dari keyakinan kami, mencoba bersikap Eukumenical (umum). Dari kedua pilihan ini kami bisa membayangkan bahwa grup Fundamentalist ini akan membawa banyak orang-orang yang menjadi Katolik karena budaya ini keluar dari iman mereka.

Pilihan yang ketiga adalah menjadi pemimpin dan gembala yang sesungguhnya dari umat paroki kami dan kemudian menghadapi ‘tantangan’ ini. Kami memilih pilihan ketiga dan memutuskan untuk bertindak dengan cepat, sebelum denominasi baru ini bisa mendapatkan pijakan dalam komunitas.

Membentuk lebih banyak kelompok pendalaman Kitab Suci dan lebih banyak kelompok Katekisasi dewasa adalah beberapa pilihan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya”, tapi cara yang utama untuk mendapatkan mayoritas jemaat adalah tetap melalui Altar/mimbar. Kami memutuskan untuk menggunakan jalan ini sebagai jalan utama. Sementara instruksi liturgis Gereja mengatakan bahwa pada hari Minggu dan hari Kudus lainnya, homili harus diberikan dari bacaan dari Kitab Suci, [namun] untuk alasan pastoral yang kuat (dan alasan kami pun adalah alasan yang pastoral) kami memberikan khotbah yang tidak secara langsung berhubungan dengan bacaan Kitab Suci. Khotbah yang bersifat serial (bersambung) kelihatannya adalah cara yang paling effektive untuk dilakukan.

Kami juga – dan ini adalah yang paling penting – memberitahu kepala pastor dalam keuskupan, yaitu Uskup Agung kami, tentang keberadaan Fundamentalist ini dalam komunitas kami dan apa yang kami akan perbuat terhadapnya. Beliau mendukung kami sepenuhnya.

[Dengan] menggunakan dua sumber utama, buku karangan Karl Keating Catholicism and Fundamentalism dan koleksi brosur-brosur dari Catholic Answer, kami membuat seri-seri khotbah. Sumber lain termasuk buku-buku karangan Rm. John A. O’Brien Faith of Millions, Sr. Leslie Rumble dan Charles M. Carty Radio Replies, Uskup John F.Noll Father Smith Instructs Jackson, Rm. William Jurgen Faith of the Early Fathers, dan Rm. William G. Most Catholic Apologetics Today.

Pada hari minggu sebelum hari Rabu Abu kami mulai dengan sebuah khotbah berjudul “Majalah Tri-Wulan Kennedy”. Issue Majalah Triwulan Kennedy ini muncul ketika kampanye presiden tahun 1960. Menggunakan cat kuku warna merah, kaum anti-Katolik menentang Kennedy dengan memakaikan topi pada figure George Washington, dimana George kelihatan seperti Paus Yohanes XXIII. Itu sebenarnya dimaksudkan agar menjadi peringatan pada mereka yang menerima majalah tersebut bahwa sebuah suara untuk Kennedy berarti bahwa Paus akan berkuasa atas pemerintahan negara.

Khotbah pertama ini adalah kuncinya. Khotbah ini menata ‘panggung’ untuk khotbah-khotbah selanjutnya. Dimulai dengan cerita tentang tempat majalah Triwulan Kennedy, sebuah kisah singkat tentang gerakan anti-Katolik di Amerika Serikat, dan kemudian dilanjutkan dengan kenyataan bahwa daerah ini didirikan oleh nenek moyang mereka untuk menghindari kebencian dari kaum anti-Katolik. Kemudian, terima kasih akan [hadirnya] seorang presiden Katolik [John Kennedy], Vatikan II, dengan gerakan Eukumene, gerakan anti-Katolik banyak sekali berkurang di negara kami, setidaknya untuk sesaat. Yang juga hampir hilang di tahun-tahun itu adalah sebagian besar isi apologetik dari Katekismus Katolik – yaitu, mengapa kita percaya apa yang kita percaya dan bagaimana mempertahankannya.

Khotbah berlanjut dengan menjelaskan phenomena agama baru: munculnya Fundamentalisme di Amerika, dan gerakan anti Katolik yang menemaninya, dan bagaimana para Katolik direbut oleh kaum Fundamentalis karena mereka tidak tahu bagaimana cara mempertahankan iman mereka ketika dipertanyakan. Kami menggunakan contoh dari kata-kata pembuka dari kaum Fundamentalis: “Kami meletakkan iman kami dalam Yesus, tidak dalam gereja atau sakramen manapun.” “Mengapa pergi kepada romo untuk meminta pengampunan dosa, sedangkan Yesus dapat langsung melakukannya?” “Alkitab mengatakan untuk tidak minum darah; maka dari itu ide Katolik tentang tubuh dan darah Kristus dalam sakramen Ekaristi adalah salah.” “Tunjukkan pada kami di dalam Alkitab dimana dikatakan untuk menghormati Bunda Maria begitu besar?”

Kami menantang umat kami: “Bisakah anda menjawab kata-kata pembuka standard tadi?” Kami memberikan pada mereka jawaban yang singkat tapi tidak lengkap. Akhir dari 15-menit khotbah adalah referensi yang terselubung akan adanya tantangan baru dalam komunitas kami: “Kami, dalam jemaat ini, mempunyai sebuah kesempatan yang begitu indah tahun ini, untuk melihat kembali apa yang kita percayai sebagai seorang Katolik dan mengapa kita percaya pada hal-hal tersebut.” Seketika itu jemaat menyadari dengan jelas situasi mana yang sedang kami bicarakan. Sebagai penutup kami mengumumkan seri khotbah sampai akhir masa Puasa, fakta bahwa Uskup Agung telah menyetujui (membuat hal ini menjadi resmi), dan mengumumkan judul topik untuk minggu berikutnya.

Selama satu minggu berikutnya kedai-kedai kopi dipenuhi dengan pembicaraan tentang seri khotbah tersebut. Penduduk merasa tertarik. Ada aroma kompetisi di udara, seperti sikap team-kami-melawan-team-lawan, yang berusaha kami tekan, tapi cukup untuk menarik perhatian dari beberapa orang Katolik yang bersikap marginal.

Minggu berikutnya kami mulai sebuah seri khotbah dua-minggu tentang bagaimana cara melihat Alkitab dengan cara pandang yang benar. Khotbah ini menjelaskan sekitar sejarah darimana kita mendapatkan Alkitab, terutama Kitab Perjanjian Baru, bagaimana Gereja Kristus dibentuk sebelum Kitab Perjanjian Baru dibentuk, bagaimana Gereja memberikan pada kita semua Alkitab dalam bentuk yang seperti sekarang, dan bagaimana Alkitab diperuntukan untuk digunakan dengan, dalam dan melalui Gereja.

Setelah minggu pertama, ada sebuah kejadian yang tidak terduga. Umat-umat mulai menelepon dan datang ke pastoran, meminta salinan khotbah. Kami, para romo yang baru di daerah itu tidak tahu bahwa banyak keluarga dalam jemaat mempunyai anak, cucu atau cicit yang telah pindah keluar kota dan akhirnya tersesat ke grup Fundamentalis. Keluarga-keluarga ini meminta salinan khotbah untuk dikirimkan kepada mereka. Lebih dari itu, siswa-siswa sekolah Theologia [kaum Fundamentalist tersebut] mulai mengetuk pintu-pintu rumah mereka, dan umat meminta lebih banyak lagi ‘amunisi’. Kalau mereka tidak bisa berargumentasi dengan baik, mereka dapat memberikan kepada siswa-siswa tersebut salinan khotbah dan berkata, “Bacalah ini.”

Berkat sekretariat paroki dan keahlian komputer mereka, kami dengan cepat dapat menerbitkan 500 salinan dari khotbah pertama dan kedua dalam bentuk booklet dan menyediakannya dalam rak tempat pamflet di belakang gereja. Kami mengumumkan bahwa salinan khotbah hari minggu akan tersedia pada hari Rabu karena “ada banyak permintaan untuk salinan khotbah.” Ini memberikan dorongan bagi para umat agar lebih tertarik. Pendeta Lutheran [tetangga kami], meskipun theology beliau tidak sama dengan kami, secara diam-diam memberikan semangat dari tepi garis. Dia tidak bisa kehilangan lebih banyak keluarga lagi dari jemaatnya yang kecil tersebut.

Setelah menyelesaikan dua seri tentang hubungan antara Alkitab dan Gereja, pada minggu ke-empat kita mulai dengan argumen Fundamentalis yang secara spesifik menjelekkan Katolik: menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat pribadi, sedang “diselamatkan”, tidak memanggil siapapun “Romo”, klerus dan Paus yang jahat, “Infalibility (=ke-tidak dapat salah-an)”, dan “pilar dan pondasi kebenaran” bagi pengikut Kristus. Pada minggu itu kita juga kedatangan beberapa tamu. Beberapa siswa theology [dari sekolah kaum Fundamentalist] datang dalam Misa untuk turut mendengar apa yang kami khotbah-kan. Pada minggu kelima kami memulai Empat Puluh Jam (kisah sengsara Kristus) yang dilakukan setiap tahun, yang diperpanjang sampai Senin dan Selasa. Devosi ini sejak lama telah dilakukan oleh umat selama masa Puasa, tapi dalam tahun-tahun belakangan ini telah mengalami penurunan peminat.

Mengingat kebenaran dari lex orandi, lex credendi, kami memutuskan untuk melakukannya “dengan megah” dan membuat Empat Puluh Jam ini spektakular. Suatu pernyataan eksternal dari iman kami akan Kehadiran Nyata [Kristus dalam Ekaristi]. Kami mengeluarkan semua “barang lama” dari sakristi dan membangun sebuah singgasana untuk monstran. Kami menyiapkan 40 lilin ditambah dengan bucket-bucket bunga diatas Altar yang tinggi, melatih para misdinar, mengundang sejumlah romo-romo yang orthodoks untuk hadir, menyediakan kain untuk ditanda-tangani selama setengah-jam adorasi, menyediakan koor gereja untuk setiap misa sore, memasang kain hymne Ekaristi, dan melakukan Misa yang khidmad pada hari Minggu-nya.

Misa akhir minggu adalah sebuah pemanasan mengenai pentingnya Ekaristi dalam kehidupan kita dan sebuah ajakan untuk mengikuti upacara Empat Puluh Jam, terutama misa sore. Tidak hanya kami mendapatkan banyak umat untuk adorasi yang hikmat selama tiga hari, tapi gereja kami, yang bisa menampung 1,400 orang, penuh sesak pada hari Minggu, Senin, dan Selasa sore untuk pelayanan-pelayanan special.

Pelayanan-pelayanan ini terdiri dari beberapa doa, khotbah yang lebih panjang, dan doa yang khidmat, ditambah dengan prosesi malam terakhir. Ketiga khotbah yang lebih panjang ini ditujukan untuk Kehadiran Nyata [Kristus dalam ekaristi] dan menjawab keberatan kaum Fundamentalis terhadapnya. Khotbah Minggu malam dimulai dengan penjelasan singkat tentang transubstantiation (pengubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus), kemudian persiapan Kristus dan murid-muridnya untuk upacara Ekaristi (keajaiban seperti yang ditulis dalam Yohanes 2-5), dan terakhir janji Kristus terhadap Ekaristi seperti ditulis di Yohanes 6. Khotbah Senin malam adalah tentang kepenuhan janji Kristus, yang kami konsentrasikan pada 1 Korintus 10-11. Khotbah Selasa malam adalah tentang bagaimana Gereja awal menerima dan melakukan upacara Ekaristi. Kami menggunakan pengakuan dari Irenaeus, Yustinus Martyr, dan Ignasius dari Antiokia untuk menunjukkan kalau doktrin ekaristi yang sekarang kita rayakan adalah tetap sama.

Ketika dalam Prosesi Meriah dilakukan arak-arakan keliling gereja pada malam terakhir, dengan Satria-satria Kolombus, pelayan-pelayan, para imam, lilin-lilin, dan umat yang berlutut sambil berseru “Yesus, Rajaku, Tuhanku, Kau Segalanya Bagiku”, kami tau bahwa iman akan Ekaristi telah dikuatkan dalam umat kami.

Minggu keenam [sejak kami mulai upaya kami] adalah Minggu kelima masa Adven. Khotbah diteruskan dengan jawaban-jawaban atas argumen-argumen spesifik para Fundamentalis atas kepercayaan Katolik [seperti]: patung-patung, penghormatan kepada Maria dan para kudus, identitas dari “saudara-saudara Tuhan [Yesus]” [Protestant merasa bahwa Yesus punya saudara kandung]. Minggu berikutnya adalah Minggu Palem, dan kami memberi liburan kepada umat paroki dengan tidak memberi homili. Kami biarkan dimulainya Minggu Suci berbicara sendiri.

Pada hari Minggu Paskah kami menceritakan tentang apa yang dialami oleh para rasul setelah Minggu pertama Paskah, sebagai bukti yang agung akan kebenaran Kebangkitan Tuhan. Pada hari Minggu setelah Paskah, dengan bacaan dari Yohanes 20, khotbah apologetik yang terakhir dari seri ini, yaitu tentang sakramen Pengampunan Dosa diberikan. Kami berjanji kepada umat bahwa di waktu-waktu kemudian, bila bacaan hari Minggu menyentuh doktrin Katolik yang ditentang oleh kaum Fundamentalis, kami akan mengajarkan doktrin tersebut, menjelaskan mengapa kita percaya apa yang kita percayai. Sejak saat itu, setiap kali suatu bacaan sedang menyentuh suatu ajaran, kami telah memenuhi janji dan telah menjelaskan Petrine primacy, Purgatory (Api Pencucian) dan ajaran tentang Bunda Maria.

Apa hasil dari seri khotbah kami? Terlepas dari banyaknya uang mereka, banyaknya jumlah personil mereka, dan ajakan aggresive mereka, kami tidak kehilangan satu jemaat pun kepada kaum Fundamentalis. (Kaum Lutheran tidak sesukses kami). Dalam beberapa minggu khotbah mengenai apologetik, kami bisa meneguhkan kembali kepada umat paroki bahwa menjadi seorang Katolik adalah beralasan, dapat dipertanggung jawabkan, dan tidak ada lagi yang lainnya. Ini adalah sebuah kota yang kecil. Dan ada 25 persen dari umat kami yang tidak secara rutin hadir setiap minggu bisa mendengar pesan tersebut. [Namun] tidak ada satu pun yang membelot [kepada kaum Fundamentalis]. Lebih dari 700 salinan dari tiap khotbah diambil. Banyak yang dikirim kepada sanak keluarga yang buruk tabiatnya yang hidup jauh dari rumah, dan sementara ini cukup banyak yang kembali kepada imannya ketika keluarga [di kampung halaman mengirimkan] bukti yang konkrit bahwa gereja kita adalah Gereja yang betul-betul “Percaya Kepada Alkitab”.

Seperti yang telah dikatakan diatas, sumber utama kami untuk seri khotbah adalah Catholicism and Fundamentalism dan booklet-booklet dari Catholic Answers. Kita tidak akan mampu mencapai seperti sekarang, dan secepat sekarang ini, tanpa sumber-sumber ini. Saya harus meminta maaf kepada Mr. Keating dan para penulis booklet karena telah mengambil kata-kata dalam booklet-booklet tersebut dalam seri khotbah kami. (Saya telah diyakinkan bahwa memang untuk kegunaan seperti itulah mereka mengerjakan semua itu dan bahwa saya telah dimaafkan!) Sumber-sumber tersebut telah menyediakan bagi kami penjelasan-penjelasan yang paling masuk akal dan mudah dimengerti tentang doktrin Katolik. Saya betul-betul bersyukur bahwa mereka telah menyediakan ini bagi kami.

Selama masa Puasa 1994, kami memutuskan untuk mengadakan seri khotbah yang lain. Kali ini mengenai keindahan dan manfaat pengampunan dari Tuhan dalam sakramen Pengampunan Dosa. Sampai hari Minggu Paskah, mayoritas umat dewasa telah mengakukan dosa mereka. Bagi banyak orang, ini adalah pengakuan pertama sejak sepuluh tahun terakhir atau [bahkan lebih lama dari itu]. Betapa besar perubahan yang terjadi pada umat kami setelah itu! Ini terlihat nyata di wajah mereka.

Kami bukan paroki yang sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Tapi dengan Rahmat Tuhan kami berusaha untuk menjadi orang Katolik yang lebih baik dan mengikuti Yesus Kristus dalam hidup kami sehari-hari. Kalau saja kita tidak memiliki keberanian dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dari kaum Fundamentalis di tahun 1993, saya ngeri untuk membayangkan situasi apa yang akan terjadi dalam jemaat ini, [mungin akan ada] perpecahan keluarga, [mungkin akan ada] orang-orang berdebat, sehingga siapa yang bisa menghitung berapa orang Katolik yang hilang imannya. Kaum Fundamentalis yang “Percaya Pada Alkitab” dan “Tumbuh Dengan Cepat” tersebut tetap ada di komunitas kami. Ketika kontrak satu-tahun mereka di bekas gedung bioskop itu berakhir, kantor pusat nasional denominasi tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Mereka sekarang berada di sebuah bangunan besi yang kecil di sudut kota, dan terakhir kali kami menghitung, ada delapan mobil yang diparkir pada hari Minggu pagi. Umat kami tetap mengalami problem parkir sejak 4,000 orang menghadiri Misa akhir minggu, tapi ini adalah problem yang indah.

Gedung tersebut telah kembali dibuka dan kembali berfungsi sebagai gedung bioskop yang sekarang memutar film-film keluarga. Ketika saya lewat pada hari Natal dan melihat poster film tentang pembuatan ulang “Miracle on 34th Street” dan bukan nama denominational yang ada disitu tahun sebelumnya, saya bisa tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Tuhan, atas semua keajaibanmu!”

Rm. Edward C. Petty adalah seorang pastor dari Gereja Katolik di Midwest [Amerika bagian barat tengah]. Beliau meminta untuk agar nama paroki, kota dan denominasi Fundamentalis tersebut tidak disebutkan. Ia tidak ingin institusi yang terakhir disebut, atau pun grup yang lainnya, [supaya mereka] tidak mencurahkan lebih banyak dana atau penginjil [Fundamentalis] ke dalam komunitasnya.

Source : http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=635&highlight

Kategori:Katekese Umum
  1. Jhon Efendi Marbun
    Februari 14, 2012 pukul 7:50 pm

    Minggu keenam [sejak kami mulai upaya kami] adalah Minggu kelima masa Adven. Khotbah diteruskan dengan jawaban-jawaban atas argumen-argumen spesifik para Fundamentalis atas kepercayaan Katolik [seperti]: patung-patung, penghormatan kepada Maria dan para kudus, identitas dari “saudara-saudara Tuhan [Yesus]” [Protestant merasa bahwa Yesus punya saudara kandung]. Minggu berikutnya adalah Minggu Palem, dan kami memberi liburan kepada umat paroki dengan tidak memberi homili. Kami biarkan dimulainya Minggu Suci berbicara sendiri.

    Apakah benar bahwa Yesus tidak mempunyai saudara kandung ( satu rahim ) ? dan jika benar Yesus tidak memiliki saudara sekandung, mengapa tidak di buat fatwa atau konsili.
    Apabila Yesus benar memiliki saudara sekandung harusnya melalui fatwa juga atau konsili,
    sama halnya saat seseorang dinyatakan menjadi santa atau santo melalui fatwa .

    Bapa Pio campidelli, kenapa Yesus sendiri dinyatakan sebagai anak Allah melalui fatwa atau konsili ( maaf Bapa Pio saya lupa konsili Nicea tahun yang ke berapa, tapi ada dan pernah saya baca ) sementara dalam alkitab sendiri berulangkali dinyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Apakah fatwa atau konsili lebih tinggi dari isi kitab itu sendiri ?

    Bapa Pio, apakah yang dimaksud dengan injil apokripa ? Mungkinkah disini jawabannya Yesus punya saudara sekandung atau tidak ?
    Injil Barnabas, Injil Thomas, Injil Maria, Injil Hermes of Sheperd dimusnahkan dengan melakukan konsili Nicea tahun 325 M, Apakah para pastor atau petinggi katolik lainnya tidak mengetahuinya ? ataukah sengaja disembunyikan agar umat tidak mengetahuinya, sementara mereka mungkin menyimpan, membaca dan mempelajarinya .

    Sungguh saya bingung Bapa Pio, mohon pencerahan
    Bapa Pio Campidelli, saya mohon maaf atas pertanyaan ini. Saya tidak bermaksud memojokkan siapa pun, saya hanya bertanya dari apa yang saya baca.

  2. Maret 4, 2016 pukul 12:14 am

    He tenido vitíligo por al menos unos varios meses
    y probado variedad de tecnicas con apenas acierto

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: