Beranda > Bina Iman Anak Dan Remaja, Info > AKSI ANAK-ANAK SEKAMI KOMUNITAS BEATOPIO CAMPIDELLI BATAM

AKSI ANAK-ANAK SEKAMI KOMUNITAS BEATOPIO CAMPIDELLI BATAM

AKSI TIGA RAJA 2011

Sebuah catatan ringan

PERJALANAN YANG SANGAT MENGASYIKKAN

Saya mengikuti langsung kegiatan AKSI TIGA RAJA 2011 yang baru saja dilakukan oleh anak-anak di Komunitas Basis Gereja (KBG) Beato Pio Campidelli di Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi pada tanggal 26 Desember 2010 yang lalu. Sungguh mengasyikkan melihat mereka sangat bersemangat dalam perjalanan dari rumah ke rumah membawa berkat Tuhan bagi keluarga-keluarga di Komunitas. Usia mereka tidaklah sama, namun mereka dapat membaur dan menyatukan diri satu sama lain. Memang ada dari mereka yang ‘bandel’ khususnya para anak laki-laki, yang sibuk membicarakan tokoh-tokoh heroik di film kartun sampai game-game di playstation, dan kemudian tanpa disadari mereka memisahkan diri dari barisan sehingga kami harus berteriak untuk memanggilnya kembali. Lain lagi dengan para anak perempuan, obrolan mereka seputar pernak-pernik dan asesoris pakaian, facebook, sampai ke Justin bieber..sungguh sangat menggelikan melihat perbincangan yang bagi mereka sendiri sangat mengasyikkan. Tentu saja, karena dunia anak-anak berbeda dengan dunia para orangtua pendamping.

Persiapan menjelang Aksi Tiga Raja ini sendiri sudah dilakukan sejak akhir Oktober 2010 pada pertemuan Sekolah Minggu di komunitas setiap minggu sore. Pak Ketua Komunitas dengan tekun dan sabar melatih dan mengajari tata gerak serta kalimat yang harus dihapal untuk masing-masing petugas.

Tanpa terasa siang mulai beranjak dan akhirnya hujan turun menyirami kota Batam. Perjalananpun menjadi tertunda hingga satu – dua jam lebih. Tak ada satupun anak yang menyerah dalam keadaan ini, semua mau bertahan dan sanggup menunggu hingga hujan berhenti. Hingga akhirnya kamipun kembali menjalankan Aksi ini setelah hujan benar-benar berhenti. Akhirnya, hanya beberapa rumah saja yang dapat kami singgahi sampai jam 18.30 sore pada hari itu, dan anak-anak berjanji akan melakukan lagi Aksi Tiga Raja ini pada keesokan harinya untuk beberapa rumah yang belum dikunjungi. Anak-anak dalam masa libur sekolah saat itu sehingga mereka tidak mempunyai masalah untuk melanjutkan Aksi ini dihari berikutnya, sedangkan saya tidak dapat ikut mendampingi dikarenakan harus kembali masuk bekerja dan tidak mengambil cuti Natal untuk tahun ini.

ADAKAH MOTIVASI TERSEMBUNYI DI HATI ANAK-ANAK?

Apa yang menjadi motivasi anak-anak dalam Aksi Tiga Raja selama ini? Sudah dapat dipastikan mereka sangat memahami dan mengerti latar belakang kegiatan ini. Namun, apakah ada daya tarik lain yang membuat mereka sangat bersemangat untuk tidak ketinggalan pada Aksi tahunan ini? Banyak hal yang saya dapat lihat ‘motivasi tersembunyi’ dibalik minat anak-anak untuk meramaikan Aksi ini. Yang saya lihat, ada beberapa anak yang sangat jarang terlibat atau menghadiri Sekolah Minggu di Komunitas tapi, dengan sedikit ajakan dari teman-temannya tiba-tiba dapat tergerak untuk terlibat, padahal Aksi Tiga Raja itu sangat melelahkan karena harus berjalan kaki dari rumah ke rumah dan hanya istirahat satu kali yaitu saat makan siang dirumah keluarga yang sudah ditunjuk.

Ada dua faktor yang saya rasakan menjadi pemicu kegairahan mereka untuk mengikuti Aksi ini, yaitu:

Pertama, Natal adalah Hari Raya yang meriah bagi kita umat Kristiani. Begitu meriahnya sehingga umat Katolik lupa bahwa pada Hari Raya Paskah lah Hari Raya yang seharusnya lebih meriah dari hari Natal, mungkin dikarenakan hari Natal sangat dekat dengan perayaan Tahun Baru sehingga banyak rumah-rumah umat Kristiani yang menyediakan dan mempersiapkan cukup banyak hidangan mulai dari makanan, minuman hingga kue-kue Natal. Begitu berlimpahnya sehingga pada saat Aksi Tiga Raja, anak-anak sedikit kerepotan untuk menghabiskan hidangan atau tidak membawa tas untuk menyimpan minuman kaleng yang diberikan tuan rumah. Tak jarang satu-dua anak menghabiskan makanan dan minuman itu dalam perjalanannya. Tak jarang juga yang karena sudah kenyang akhirnya mencari atau meminjam tas plastik untuk menyimpan itu semua sebagai oleh-oleh setibanya dirumah nanti. Hari itu sungguh adalah hari yang sangat membahagiakan bagi mereka, dan sayapun dapat merasakan kegembiraan itu.

Kedua, bagi keluarga yang cukup mampu dalam segi ekonomi, tak jarang mereka bukan saja menyajikan makanan atau minuman tetapi juga tambah memberikan angpao bagi anak-anak. Saya dapat melihat begitu bahagianya mereka saat bersalaman dan diberi uang sebagai salam tempel ketika berpamitan pulang. Anak-anak dibagikan sejumlah uang menurut tingkat usianya. Bagi mereka yang lebih besar mendapatkan kira-kira Rp.10.000 sampai Rp.20.000, sedang bagi yang masih kecil mendapat uang Rp. 2.000 sampai Rp 5.000. Melihat kejadian ini, pikiran saya langsung melayang mengingat kejadian 30 tahun yang lalu, ketika saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar, di lingkungan perumahan saya tinggal waktu itu umumnya beragama Islam dan pada Hari Raya Lebaran sudah merupakan tradisi bagi mereka untuk memberikan uang kepada anak-anak sebagai ungkapan berbagi sukacita setelah satu bulan mereka berpuasa. Saya bersama teman-teman sungguh menikmati akan hari yang sudah kami tunggu-tunggu itu, berkeliling perumahan dan mendatangi semua rumah bukan saja untuk mendapatkan kue-kue yang enak tapi juga mengharapkan dan mengumpulkan salam tempel. Dan kemudian di sore harinya kami bersama-sama menghitung ‘hasil pendapatan’, untuk kemudian kami belikan jajan atau mainan (Jaman saya kecil dulu belum ada playstation atau bahkan warnet untuk bermain internet). Saya dapat membayangkan perasaan gembira anak-anak komunitas dalam menjalankan Aksi Tiga Raja ini sama seperti perasaan saya puluhan tahun yang lalu.

KEMBALI KE JALAN YANG BENAR

Peristiwa yang saya lihat ini ternyata tidak hanya dilakukan di KBG kami, melainkan hampir diseluruh KBG se-Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah dua faktor yang disebutkan diatas sudah merupakan kewajaran atau bahkan sudah dapat dilegalkan untuk menjadi sebuah tradisi? Mungkin sedikit sulit untuk kita menjawabnya.

Untuk faktor yang pertama dapat kita pahami bersama dan kemudian kita maklumi dikarenakan para anak-anak membutuhkan energi yang cukup untuk berjalan dari rumah ke rumah, sehingga pemberian kue-kue dan minuman kaleng dapat membantu mengolah stamina anak-anak agar tidak mudah menyerah dalam menjalankan Aksi Tiga Raja.

Bagaimana dengan faktor yang ke-dua, apakah juga dapat dimaklumi?… Mungkin bagi sebagian dari kita, hal itu dapat dimaklumi juga, terutama bila para orang-tua yang berkemampuan lebih secara ekonomi memberikan uangnya dengan ikhlas dan bersenang hati melihat semangat yang ditunjukkan oleh anak-anak. Memang tidak semua keluarga atau orang-tua yang dikunjungi oleh anak-anak memberikan uang sebagai hadiah dalam Aksi Tiga Raja ini.

Yang mungkin dapat kita tarik benang merahnya adalah Tujuan serta Cita-Cita dari Gerakan Aksi Tiga Raja yang setiap tahun kita lakukan di semua KBG-KBG. Tujuan dari Aksi Tiga Raja adalah untuk mengajarkan kepada anak-anak kita bagaimana cara yang dapat dilakukan mereka dalam rangka menolong sesama mereka, para anak-anak sedunia yang masih dalam keadaan terbelakang intelektual karena tidak dapat mengecap pendidikan di bangku sekolah, para anak-anak dibelahan dunia lain yang tidak dapat menghabiskan waktu mereka untuk menikmati masa kanak-kanak yang selayaknya mereka alami karena desakan dan tuntutan ekonomi keluarganya, para anak-anak di negara lain yang terpisah oleh orang-tua mereka dikarenakan perang, bencana alam, aksi terorisme, dan lain-lain.

PERJALANAN PULANG

Sepengetahuan saya, tidak ada tradisi dalam Gereja Katolik yang mengajarkan untuk memberikan hadiah berupa uang atau barang kepada siapa saja terlebih anak-anak, pada hari-hari raya gereja seperti Paskah dan Natal. Namun, karena kita hidup bersama orang lain yang multi kultural, multi religi, dan kemapanan ekonomi yang berbeda, maka kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak dapat dihindari.

Sebagai orangtua,. kita layak mengingatkan kepada anak-anak kita maksud dan tujuan Aksi Tiga Raja yang sesungguhnya. Aksi Tiga Raja bukan hanya untuk menghafal teks dan berakting sesuai skenario. Aksi Tiga Raja bukan hanya untuk memakai topi sinterklas atau memakai mahkota dan tongkat berbintang untuk membagikan stiker. Aksi Tiga Raja bukan hanya untuk berkeliling mengucapkan “Selamat Natal” serta mendapatkan kue-kue, minuman kaleng bahkan angpao.

Aksi Tiga Raja mengajarkan kepada anak-anak kita tentang berdoa dan berderma. Aksi Tiga Raja mengingatkan kepada anak-anak kita bahwa mereka termasuk anak-anak yang beruntung dalam kehidupan masa kecilnya dibandingkan anak-anak seusia mereka dibelahan dunia lain. Aksi Tiga Raja mengajarkan kepada anak-anak kita sejak dini agar dimasa dewasa nanti, kelak mereka mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, kepedulian akan sesama manusia yang hidup berkekurangan, mencintai sesama seperti Tuhan yang rela disalibkan demi cinta-Nya kepada kita, umat manusia ciptaan-Nya.

Dengan demikian, kita tak akan meragukan lagi niat anak-anak dalam mengikuti Aksi Tiga Raja yang akan datang. Biarlah anak-anak dengan ceria melahap segala pemberian kita sebagai pelepas lapar dan dahaga. Biarlah anak-anak dengan bahagia menerima pemberian kita dalam bentuk uang. Kita telah membentengi iman anak-anak kita, bahwa itu semua adalah buah-buah cinta kasih yang akan menemani perjalanan meraka dalam mencapai tujuan Aksi ini.

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah empunya Kerajaan Allah.” (Lukas 18:16)

Batam, 26 Januari 2011

FX Joko Sudiro

Diperkenankan mengcopy atau memperbanyak tulisan ini dengan mencantumkan sumbernya www.komunitasbeatopiocampidelli.wordpress.com

  1. Oktober 14, 2013 pukul 7:40 am

    Mohon dikirim disusun panduan/module untuk team pembina anak/BIAR MBPA Batam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: