Beranda > Info > Serba-serbi komunitas

Serba-serbi komunitas

APA MAKNA FOTO INI? SIAPA MEREKA?…

Siapa yang tidak mengenal 3 pribadi yang terpampang pada foto diatas? Apakah ada diantara kita yang benar-benar tidak mengenal mereka?

Mereka adalah ibu-ibu komunitas yang tergolong umat aktif dalam setiap kegiatan dikomunitas, baik itu doa komunitas, latihan koor, rapat pengurus komunitas sampai ikut pertemuan seksi liturgi di Paroki MBPA pada minggu ketiga setiap bulannya.

Apakah hanya mereka para ibu yang aktif dikomunitas? Tentulah tidak, masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan satu persatu. Namun, ada sesuatu yang lain yang bisa kita lihat dalam foto ini, apakah itu?

Mereka adalah gambaran umat komunitas yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia. Dari kiri ke kanan; Ibu Sanda mewakili umat suku Jawa, Ibu Pandiangan mewakili umat suku Batak dan Ibu Aloysius mewakili dari suku Flores. Itulah gambaran umat Katolik di komunitas kita ini. Berbeda suku dan tradisi namun menjadi satu dalam iman, karena hanya dalam Yesus Kristus kita menjadi satu suku yaitu suku Katolik. Berbeda sifat dan perilaku namun menjadi satu dalam pencarian jati diri untuk hidup secara kudus dihadapan Tuhan.

Lalu bagaimana cara untuk menyatukan semua perbedaan-perbedaan yang dibawa secara lahiriah, berikut tips-tipsnya:

TIPS MENJAGA KEUTUHAN HUBUNGAN BAIK DALAM KOMUNITAS

1.Menjaga perkataan agar jangan menyinggung sesama

Menjaga perkataan ini adalah hal yang paling utama dalam menjalin hubungan baik dalam komunitas. Seringkali ini menjadi faktor pemicu keengganan umat untuk bergabung dalam komunitas. Meskipun kita sudah demikian dekat atau akrab satu sama lain namun terkadang sebagai manusia kita sering melupakan bahwa perkataan kita suatu saat dapat menyakitkan hati orang lain. Bila hal ini terjadi, segeralah meminta maaf dan menjelaskan kepadanya bahwa perkataan tadi tidak bermaksud menyinggung atau menyakiti hati mereka. Atau bicarakan dengan pengurus komunitas atau orang terdekatnya untuk menjernihkan permasalahan tersebut.

2.Menjaga perbuatan/sopan santun.

Hal utama yang kedua ini juga dapat menjadi faktor pemicu berkurangnya keaktifan umat di komunitas. Terkadang perbuatan kita meskipun kita merasa tidak bermaksud menyakiti namun penerimaan orang dapat berbeda satu sama lain. Perbuatan seperti memukul, mencibir, mencubit, meremehkan melalui pandangan mata, menampik, meledek, dan lain-lain, dapat dianggap penghinaan bagi orang lain. Untuk itu kita dituntut untuk semakin menjaga perbuatan kita demi kebersamaan dalam komunitas. Ingatlah bahwa bila kita tidak ingin diperlakukan seperti itu maka kitapun tidak akan melakukannya kepada orang lain.

3.Usahakan selalu menepati janji tepat pada waktunya.

Menepati janji ketika kita meminjam uang atau meminjam barang kepunyaan orang lain di komunitas sangat berpengaruh juga dalam menjaga hubungan baik. Uang adalah hal yang sensitive bagi banyak orang, untuk itu apabila kita meminjam uang sebaiknya segeralah kita memprioritaskan pengembaliannya kepada mereka secepatnya karena merekapun sangat membutuhkan uang tersebut dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Bila kita belum mampu menepati pembayaran uang, bicaralah secara terbuka kepada mereka agar merekapun tidak bertanya-tanya dan bahkan jangan sampai kita menjadi malu dan tidak mau bergabung lagi dalam komunitas.

4.Saling berkunjung dan mengunjungi.

Peralatan doa komunitas (Salib, tempat lilin, dan patung Bunda Maria) selalu ditinggalkan ditempat terakhir doa berlangsung dan tidak dibawa lagi oleh pengurus atau seksi liturgi dengan maksud agar siempunya rumah akan mengantarkan peralatan doa tersebut pada jadwal doa berikutnya. Dengan demikian terjalin hubungan

saling berkunjung dalam komunitas. Begitu juga apabila rumah kita digunakan sebagai tempat doa, hendaklah kita juga datang pada jadwal doa dirumah lainnya. Tanamkan dalam hati kita apakah kita pernah ikut doa dirumah keluarga tersebut. Dengan demikian kita akan semakin mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Jangan sampai terbersit pikiran “Keluarga tersebut tidak pernah datang doa komunitas dirumah saya, kenapa saya harus datang ketika doa komunitas ada dirumahnya?” hendaknya selalu tertanam dalam hati kita “saya belum pernah berjumpa keluarga tersebut, kebetulan sekarang ada doa komunitas dirumahnya maka saya akan datang sekaligus berkenalan dengan mereka” dengan demikian maka kita akan saling mengenal dan dikenali oleh semua umat komunitas.

5.Beramah-tamah setelah Misa atau setelah doa komunitas.

Meskipun terlihat sepele, namun beramah-tamah atau ngobrol sebentar baik setelah Misa di Gereja ataupun setelah doa komunitas dapat menjalin hubungan akrab satu sama lain apalagi bagi mereka yang telah lama tidak pernah berjumpa dengan saudara-saudara seiman. Juga mempermudah penyampaian informasi-informasi komunitas maupun paroki serta dapat menjadikan sebagai ajang tanya-jawab mengenai iman Katolik atau isu-isu kemasyarakatan. Untuk itu janganlah menjadi yang pertama memohon diri setelah misa atau doa komunitas kecuali memang ada keperluan penting yang tidak bisa ditinggalkan.

6.Memberi contoh bagi umat yang lain

Meminta maaf, menerima maaf, bersalaman ketika bertemu dan berpamitan dalam doa komunitas, tidak terlambat datang dalam doa komunitas dan latihan koor, selalu hadir dalam doa dan latihan koor, dan lain-lain, itu adalah sebagian contoh dari perbuatan baik yang dapat ditiru oleh orang lain. Selain itu, hadir dalam misa di gereja dan doa komunitas secara utuh (suami, istri dan anak-anak) adalah contoh yang mulia dan sangat membanggakan karena memang itulah keinginan Tuhan agar kita dapat menjadi keluarga yang kudus secara keseluruhan.

7.Membuat keputusan secara bersama

Sesederhana apapun rencana yang akan disusun, haruslah tetap mengutamakan pendapat orang atau umat yang lain. Umat yang jarang bertemu atau bicara dalam komunitas tetaplah harus dimintai pendapat, karena keputusan yang akan diambil adalah keputusan seluruh umat komunitas, bukan keputusan pengurus. Untuk hal-hal tertentu, ketua komunitas mempunyai hak untuk menentukan apakah suatu keputusan layak disetujui. Apabila keputusan itu dapat membahayakan komunitas, atau hanya menguntungkan sebagian umat, maka ketua komunitas berhak untuk tidak menyetujui atau bahkan membatalkan keputusan tersebut.

8.Memberi rumah sebagai tempat doa atau misa komunitas

“jangan doa dirumah saya, saya lagi sibuk dan pulang malam. Yang lainnya aja, pak” begitu mendengar kalimat ini, maka pusinglah kepala si ketua komunitas. Pemilihan tempat doa adalah sesuai dengan urutan atau jadwal giliran yang harus diterima setiap umat komunitas. Bukankah dengan adanya doa atau misa komunitas dirumah kita, maka rahmat dan berkat Tuhan akan semakin berlimpah bagi kita yang mendiami rumah tersebut. Jangan pula ada alasan, “wah, rumah saya kecil dan belum direnovasi…nanti ajalah kalo saya sudah renov rumah, boleh doa dirumah saya..” kira-kira berapa bulan atau berapa tahun lagi mau direnovasi? hanya tuan rumah dan Tuhan saja yang tau.

9.Jangan takut untuk memberi suguhan seadanya

Kita berkumpul adalah untuk berdoa dan mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan bagi kita, bukan untuk mengharapkan hidangan apa yang akan disajikan oleh tuan rumah. Jangan pernah terlintas dipikiran kita keinginan untuk datang doa karena dirumah seseorang selalu menyajikan makan malam atau kue-kue yang enak sedangkan dirumah yang lain tidak datang karena paling dikasih kue-kue pasar yang murah. Bagaimana iman kita dapat bertumbuh, bila kita kembali kerumah kita malah membahas sajian tuan rumah bukannya membahas Sabda Tuhan yang baru saja didengar dalam doa komunitas. Jadi, jangan takut bila hanya sanggup menyajikan air mineral atau gorengan!

10.Jangan membuat gossip

Apapun alasannya, janganlah pernah menyebar cerita tentang seorang umat kepada umat yang lain. Baik itu tentang keburukan sifat seseorang, apalagi keburukan suatu keluarga dalam komunitas. Jangan pula membicara keadaan keekonomian suatu keluarga, karena penghasilan seseorang tidaklah akan pernah sama. Bila seseorang meminjam uang atau barang kepada kita dan belum membayarnya hingga saat ini, hendaklah kita bertanya langsung kepada mereka, dan jangan melalui perantaraan orang lain, karena justru dari mulut orang lain inilah segalanya berubah menjadi penuh bumbu-bumbu yang membahayakan siapa saja.

Jadi demi alasan apapun, Jangan membuat gossip!!!

Tips-tips diatas adalah sebagian saja dari begitu banyak hal yang dapat memicu keretakan dalam hidup berkomunitas. Bahkan Pastor Paroki atau pengurus DPP Paroki pun dapat dijadikan alasan untuk tidak aktif lagi di komunitas. Sesungguhnya bila kita tetap teguh dalam iman, tekun dalam doa, maka semuanya itu tidak akan terjadi. Kita menyadari bahwa sebagai manusia kita masih dalam perziarahan untuk menuju sempurna dalam berperilaku dan bertutur-kata.

Semoga ditahun 2011 ini, komunitas kita semakin teguh berjalan dalam menuju kesempurnaan iman, untuk hidup secara kudus dihadapan Tuhan dan sesama. SELAMAT TAHUN BARU 2011!

(Batam 09 Januari 2011 oleh FX Joko Sudiro, mantan ketua komunitas 2006-2009 sekarang menjabat koordinator seksi liturgi komunitas 2009-2012)

Kategori:Info Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: