Beranda > Seksi Liturgi > Pastoral Liturgi Komisi Liturgi Keuskupan Pangkalpinang

Pastoral Liturgi Komisi Liturgi Keuskupan Pangkalpinang

“LITURGI KUDUS ”

INSTRUKSI 2

USKUP PANGKALPINANG

MGR. HILARIUS MOA NURAK, SVD

TENTANG

PASTORAL LITURGI

KOMISI LITURGI KEUSKUPAN PANGKALPINANG

2005

KATA PENGANTAR

Bertepatan dengan ulang tahun imamatnya tanggal 2 Agustus 2005, Uskup Pangkalpinang mengeluarkan intruksi “Liturgi Kudus.” Keluarnya intruksi ini sesungguhnya didasarkan pada keyakinan bahwa Liturgi adalah perayaan iman Gereja akan misteri penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus. Dalam liturgi itu, berlangsunglah peristiwa perjumpaan antara Allah dan umat beriman melalui Yesus Kristus dalam ikatan Roh Kudus.

Instruksi ini dimaksudkan untuk membantu umat dalam membangun suatu perayaan liturgi Gereja yang bercirikan kebersamaan dan persaudaraan, partisipasi umat beriman secara sadar dan aktif, dan melibatkan pengalaman hidup serta budaya konkret umat, tanpa mengaburkan inti iman Katolik, terutama tentang segala hal yang harus diperhatikan dalam pastoral liturgi seputar Perayaan Ekaristi. Oleh karena itu Instruksi ini juga sebagai bantuan bagi semua umat dalam memahami dan meningkatkan perayaan liturgi secara baik, benar, kreatif, inovatif dan kontekstual.

Semoga instruksi ini menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi pengembangan dan pembaharuan liturgi di setiap komunitas basis, komunitas kategorial, di stasi-stasi/wilayah-wilayah dan di paroki-paroki.

Komisi Liturgi Keuskupan Pangkalpinang

D A F T A R   I S I

KATA PENGANTAR

PRAKATA

(I).   PERATURAN LITURGI KUDUS KEUSKUPAN PANGKALPINANG

1.1.    Uskup Pangkalpinang

1.2.    Para Imam

(II). HARI MINGGU DAN HARI RAYA

2.1. Hari Minggu

2.2. Hari Raya

(III). MISA VOTIF, PEMAKAMAN DAN PERKAWINAN

(IV) .KOMUNI SUCI

3.1. Syarat-syarat untuk Menyambut Komuni

3.2. Komuni di Luar Misa

3.3. Komuni Satu dan Dua Rupa

(IV). PELAYAN TAK LAZIM UNTUK KOMUNI SUCI

(V). TATA PERAYAAN EKARISTI YANG BENAR

5.1. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Liturgis

5.2. Tanda Salib Liturgis

5.3. Pemilihan Nyanyian

5.4. Saat Hening

5.5. Tata Ruang

5.6. Altar dan Hiasannya

5.7. Busana Liturgis

5.8. Tempat Tabernakel

5.9.  Sisipan dalam Misa

PENUTUP

PRAKATA

1.         LITURGI KUDUS[1] merupakan instruksi tentang kebijakan pastoral dalam bidang liturgi di Keuskupan Pangkalpinang berdasarkan pada Instruksi Sakramen Penebusan dan perubahan-perubahan yang muncul dalam Tata Perayaan Ekaristi terbitan Komisi Liturgi KWI tahun 2005.

2.      Kehadiran instruksi ini sekaligus membaharui keputusan Uskup Pangkalpinang No. 002/AB-2/I/1997. Dengan demikian keputusan Uskup tentang Kebijakan Pastoral di Bidang Liturgi tahun 1997 itu dinyatakan tidak berlaku lagi.

3.      Instruksi ini tidak memuat seluruh pedoman liturgi melainkan terutama menegaskan kembali beberapa hal mengenai: HARI MINGGU DAN HARI RAYA, MISA VOTIF, PEMAKAMAN DAN PERKAWINAN, KOMUNI SUCI, PELAYAN TAK LAZIM UNTUK KOMUNI dan TATA PERAYAAN EKARISTI YANG BENAR dan SISIPAN. Oleh karena itu Instruksi harus dibaca, dimengerti dan dilaksanakan berdasarkan pedoman-pedoman resmi Gereja.

(I)

PERATURAN LITURGI SUCI

4.      Wewenang untuk mengatur liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yaitu Tahta Apostolik dan Uskup menurut kaidah-kaidah hukum.[2]

5.    Tahta Apostolik yang berwenang untuk mengatur  Liturgi Suci seluruh Gereja, menerbitkan buku-buku liturgi serta memberikan recognitio terjemahannya ke dalam bahasa-bahasa lokal, dan mengawasi agar di mana pun peraturan-peraturan liturgi ditepati dengan setia.[3]

6.       Pedoman yang hendaknya diperhatikan dalam Perayaan Litugi Kudus adalah pedoman yang dikeluarkan secara resmi baik oleh Tahta Apostolik (Kongerasi Ibadat), Konferensi Wali Gereja dan Keuskupan; serta rubrik-rubrik yang terdapat pada buku-buku liturgi resmi Gereja.

7.      Hendaknya liturgi suci dilaksanakan sedemikian rupa secara penuh dan tepat guna supaya terhindar kesan bahwa liturgi itu menjadi “milik pribadi seseorang, entah pastor, komunitas atau kelompok di mana liturgi dirayakan”.[4]

1.1. Uskup Pangkalpinang

8.      Uskup Pangkalpinang adalah moderator, promotor dan penjaga seluruh hidup liturgis kawanannya.[5] Oleh karena itu Uskup Pangkalpinang berhak “dalam batas-batas kewenangannya menetapkan norma-norma liturgis dalam wilayah Keuskupan Pangkalpinang yang harus ditaati semua umat yang berada di wilayah Keuskupan Pangkalpinang, termasuk lembaga hidup bhakti.[6]

9.     Untuk menjalankan tugas tersebut Uskup dibantu oleh Komisi Liturgi Keuskupan Pangkalpinang untuk menangani pelayanan pastoral di bidang liturgi sesuai dengan pandangan dan norma-norma yang Uskup tetapkan.[7]

1.2. Para Imam

10.    Para Imam sebagai pembantu Uskup dipanggil untuk melayani Umat Allah.  Mereka bersatu dengan Uskup dalam imamat, sekalipun diberi tugas-tugas yang berbeda-beda. “Di masing-masing jemaat setempat, mereka dalam arti tertentu menghadirkan Uskup, yang mereka dukung dengan semangat percaya dan kebesaran hati. Sesuai dengan jenjangnya, mereka mengemban tugas serta keprihatinan Uskup dan ikut menunaikannya dengan tekun setiap hari. Karena itu mereka berusaha untuk turut memperhatikan karya pastoral seluruh keuskupan, bahkan seluruh Gereja.[8]

11.    Khususnya dalam Perayaan Ekaristi, para imam mempunyai tanggung jawab besar untuk memimpin Perayaan Ekaristi in persona Christi, tanda kehadiran Kristus yang merayakan Ekaristi dalam persekutuan Gereja-Nya sekaligus pelayan komunitas.[9] Karena itu hendaklah semua imam harus berusaha untuk mengembangkan pengetahuannya serta ketrampilannya di bidang liturgi sedemikian rupa sehingga melalui pelayanan liturgis mereka, Allah  Bapa, Putera dan Roh Kudus dipuji.[10]

(II)

HARI MINGGU DAN HARI RAYA

2.1. Hari Minggu

12.     Pada Hari Minggu Gereja merayakan misteri paskah, di mana seluruh umat berkumpul untuk mendengarkan Sabda Allah dan berpartisipasi dalam Ekaristi untuk mengenangkan derita, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus dan bersyukur kepada Allah yang telah melahirkan kita kembali ke dalam pengharapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus dari mati (1Ptr 1: 3). Atas dasar itu maka perayaan Hari Minggu tidak boleh dikalahkan oleh perayaan-perayaan lain.[11]

13.     Dalam tradisi liturgi, Hari Minggu sudah dihitung sejak hari Sabtu sore. Karena itu pada hari Sabtu sore ada kebiasaan merayakan Ekaristi dengan doa dan bacaan seperti pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu. Atas dasar itu maka ditegaskan bahwa:

a.  Pada hari Sabtu sore dapat diadakan Perayaan Ekaristi Hari Minggu.

b.  Pada Hari Sabtu sore, seperti juga pada hari Minggu, tidak diperbolehkan merayakan misa di kelompok atau untuk ujud pribadi atau ujud kelompok tertentu.

2.2. Hari Raya

14.     Yang termasuk Hari Raya Wajib adalah: Natal,  Penampakan Tuhan, Tri Hari Suci, Rabu Abu, Oktaf Paskah, Peringatan Arwah, Kenaikan Tuhan, Tubuh dan Darah Kristus, Santa Perawan Maria Bunda Allah, Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Santa Perawan Maria diangkat ke Surga, Santo Yusuf, Santo Petrus dan Paulus, Hari Raya Semua Orang Kudus.

15.    Hanya Konferensi Waligereja yang berwenang, dengan persetujuan Tahta Apostolik, menghapus beberapa dari Hari Raya Wajib itu atau memindahkan hari raya itu ke hari Minggu.

16.    Hari Raya yang dipindahkan ke hari Minggu: Penampakan Tuhan, Tubuh dan Darah Kristus.

17.     Pada Hari Raya ini tidak diperbolehkan merayakan Misa Votif dan Misa Kelompok.

(III)

MISA VOTIF, PEMAKAMAN, ARWAH DAN PERKAWINAN[12]

18.    Misa Votif tidak diperbolehkan pada Hari Raya  dan  Hari Minggu Biasa[13]

19.    Misa Pemakaman

a. diperbolehkan pada hari manapun (termasuk, pada hari Minggu sesudah Natal dan hari Minggu Biasa), kecuali pada Hari  Raya Wajib, Hari Minggu Adven, Hari Minggu Prapaskah dan Hari Minggu Paskah.

b. sebaiknya tidak dilaksanakan bila tidak ada jaminan adanya suasana hikmat selama Perayaan Ekaristi berlangsung

c. tidak dapat dilaksanakan pada hari Minggu Biasa di mana  seorang imam harus merayakan 2 atau 3 kali pada Hari Minggu tersebut.

20.    Misa Arwah dapat dirayakan pada saat berita kematian diterima, pada hari pemakaman (sesudah atau sebelum pemakaman) dan pada hari peringatan, kendatipun hari itu jatuh pada hari biasa dalam Masa Adven, dalam Oktaf Natal dan masa Prapaskah, kecuali pada Hari Rabu Abu dan Pekan Suci.

21.    Misa Perkawinan:

a. diperbolehkan pada Hari Minggu Biasa dan Hari Minggu Masa Natal, dengan ketentuan:

(i).  Bila dilangsungkan dalam Misa Umat maka tata perayaan, doa-doa dan rumusan liturgi yang digunakan adalah tata perayaan, doa-doa dan rumusan liturgi Hari Minggu yang bersangkutan.

(ii).  Bila dilangsungkan di luar Misa Umat, maka tata perayaan, doa-doa dan rumusan liturgi boleh menggunakan rumusan liturgi perkawinan. Tetapi harus diingat bahwa misa ini tidak menggantikan Misa Hari Minggu. Penegasan ini didasarkan pada kenyataan bahwa karena ada Misa Perkawinan di luar Misa Umat pada Hari Minggu, umat tidak menghadiri Misa Hari Minggu lagi.

b.  tidak diperbolehkan pada Hari Raya, Hari Minggu  Adven, Selama masa Prapaskah, Selama Oktaf Paskah.

(IV)

KOMUNI SUCI

3.1. Syarat-syarat untuk Menyambut Komuni

22.    Mereka yang melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan jika  tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat.

a. Kebiasaan Gereja sejak dahulu menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam dan bahwa  setiap orang harus sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat.

b. Tetapi bila ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; maka ia harus ingat bahwa ia harus membuat tobat sempurna, dan dalam doa dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin.[14]

c. Pertobatan pada awal misa dimaksudkan untuk menyiapkan umat untuk merayakan Ekaristi. Jadi, absolusi dalam Perayaan Ekaristi tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat dan tidak dapat dipandang sebagai pengganti Sakramen Tobat untuk memberi ampun atas dosa-dosa.[15]

23.    Umat menyambut Tubuh Kristus dengan sikap iman yang dinyatakan dengan ucapan AMIN secara tegas dan jelas, tidak berbisik, paling tidak dapat didengar oleh Pelayan.

24.    Umat menyambut Tubuh Kristus dengan lidah atau di tangan. Jika di tangan, maka tangan harus diangkat ke atas, paling tidak sejajar dengan mulut, sebagai tanda hormat. Jika ada bahaya profanasi, Tubuh Kristus tidak diterimakan di tangan melainkan dengan lidah.

25.    Tubuh Kristus yang sudah diterima di tangan harus segera disantap di hadapan pelayan, tidak boleh dibawa pergi.

3.2. Komuni di Luar Misa

26.    Sangat dianjurkan agar umat beriman menyambut komuni suci dalam Perayan Ekaristi itu sendiri. Akan tetapi mereka yang meminta atas alasan yang wajar di luar misa hendaknya dilayani, dengan mengindahkan ritus liturgi.[16]

27.     Berdasarkan ketentuan no. 26 di atas maka:

a. Komuni kudus dapat diterima dalam Ibadat Sabda Hari Minggu (Hari Raya), asalkan Tubuh Kristus itu dikonsakrir pada Hari Minggu (Hari Raya) itu juga. Karena itu Ibadat Sabda dengan Komuni hanya diperbolehkan pada hari Minggu dan Hari Raya.

b.  Hendaklah diatur agar  Ibadat Sabda Hari Miggu (Hari Raya) dengan Komuni dan Perayaan Ekaristi Hari Minggu (Hari Raya) tidak dirayakan pada waktu yang bersamaan.

c. Tidak diperkenankan mengkonsakrir sebanyak-banyaknya roti untuk disimpan di tbernakel dan disantap umat selama pastor tidak berkunjung ke tempat itu untuk Perayaan Ekaristi.

d. Untuk kebutuhan orang sakit dan adorasi bisa disimpan Tubuh Kristus dalam jumlah kecil, asalkan ditempatkan dalam Tabernakel yang pantas.

e. Kepada orang sakit yang membutuhkan dapat diberikan komuni kapan saja juga pada hari Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci.

3.3. Komuni Satu dan Dua Rupa[17]

28.     Komuni suci hendaknya diterimakan hanya dalam rupa roti atau dalam dua rupa (roti dan anggur). Namun dalam keadaan terpaksa dapat diterimakan hanya dalam rupa anggur.[18]

29.    Komuni satu rupa dianjurkan karena Gereja yakin bahwa Kristus hadir seutuhnya dalam setiap rupa, baik roti maupun anggur.

30.    Karena alasan-alasan tertentu diperkenankan menyambut komuni dua rupa: misalnya pada baptisan baru dewasa, krisma, perkawinan, misa dalam kelompok khusus dengan jumlah umat yang tidak banyak.

31.    Dalam buku Misale Romawi disebutkan beberapa cara menyambut komuni dua rupa. Tetapi melalui instruksi ini saya menetapkan agar kita hanya menggunakan cara “mencelupkan Tubuh Kristus ke dalam Piala dengan ketentuan seperti yang disebutkan dalam nomor berikut.

32.    Imamlah yang harus mencelupkan Tubuh Kristus dan menerimakan kepada umat dan umat menerimanya dengan lidah bukan tangan.

33.     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri – apalagi meneruskan kepada orang lain – hosti  kudus atau piala kudus. Dalam artian ini haruslah dihindarkan juga penyimpangan di mana mempelai saling menerimakan komuni dalam Misa Perkawinan.

34.    Semua imam yang merayakan misa konselebrasi wajib menyambut dua rupa. Ketika menyerahkan hosti atau piala kepada imam lain dalam misa konselebrasi itu, imam itu tidak mengatakan apa-apa.

(V)

PELAYAN TAK LAZIM UNTUK KOMUNI KUDUS

35.     “Pelayan yang selaku pribadi Kristus dapat melaksanakan Sakramen Ekaristi, hanyalah Imam yang ditahbiskan secara sah”.[19] Maka pelayan-pelayan yang lazim (ordinary) untuk memberikan komuni adalah Uskup, Imam dan Diakon.[20]

36.    Di samping pelayan-pelayan tertahbis, ada juga akolit (yakni para frater yang akan menjalani tahun orientasi pastoral) yang dilantik secara resmi, dan karenanya menjadi pelayan tak lazim untuk komuni baik di dalam maupun di luar Perayaan Ekaristi.

37.    Selain itu, bila kebutuhan Gereja memintanya, namun tidak tersedia pelayan-pelayan tertahbis, maka kaum awam, baik pria maupun wanita, dapat dipilih untuk  membantu membagikan komuni menurut ketentuan hukum.[21]

38.    Para awam yang diangkat untuk tugas ini bukanlah demi partisipasi penuh awam dalam Perayaan Ekaristi, tetapi lebih bersifat pelengkap dan sementara karena terbatasnya jumlah imam semata-mata[22]

39.    Nama yang tepat untuk akolit dan petugas awam yang telah dilantik/diangkat sebagai petugas untuk membagi komuni adalah Pelayan Tak Lazim untuk Komuni Sucibukan “pelayan khusus/luar bisa komuni” atau “pelayan tak lazim Ekaristi”, karena istilah-istilah yang menunjukkan arti jabatan itu menjadi lebih luas, padahal ini tidak perlu dan tidak diinginkan.[23]

40.    Jika di suatu tempat jumlah pelayan tertahbis mencukupi untuk membagi komuni, maka tidak boleh ditunjuk pelayan-pelayan tak lazim untuk komuni. Tidak dibenarkan kebiasaan para imam yang walaupun hadir pada perayaan itu tidak membagikan komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang awam.

41.   Jadi alasan memberikan tugas kepada pelayan tak lazim untuk komuni hanya untuk mempersingkat waktu Perayaan Ekaristi dengan memperhatikan situasi setempat bukanlah alasan yang cukup kuat.[24]

(VI)

TATA PERAYAAN EKARISTI YANG BENAR[25]

42.   Pegangan pokok kita untuk menuju Perayaan Ekaristi yang benar adalah Tata Perayan Ekaristi 2005 yang sudah dipromulgasikan oleh KWI.

5.1. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Liturgis

43.     Tata gerak dan sikap tubuh liturgis yang benar dalam Perayaan Ekaristi adalah mengikuti apa yang telah digariskan dalam petunjuk dan rubrik TPE 2005 dan PUMR 2002.[26]

44.     Dalam Instruksi ini ditegaskan beberapa hal baru (dibandingkan dengan TPE lama) yang sebenarnya telah ada dalam rubrik TPE 2005 sebagai berikut:

5.1.1. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Liturgis dalam Ritus Pembuka

45.     Perarakan masuk: Umat berdiri

a.  Petugas liturgi yang ikut perarakan bersama imam (dan diakon) selain Putra Altar adalah:  lektor, pemazmur dan pelayan tak lazim untuk komuni suci.

b. Sesampai di depan altar, Imam, peserta perarakan dan SELURUH UMAT menghormati altar dengan membungkukkan badan.

46.     Pernyataan tobat: Umat berlutut, sesuai dengan TPE 2005.

Namun jika umat tidak bisa atau tempat tidak memungkinkan untuk berlutut, pengganti sikap berlutut adalah berdiri, bukan duduk.[27]

5.1.2. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Liturgis dalam Liturgi Sabda

47.     Pada waktu Syahadat ada dua sikap dan gerak liturgi yang harus dilakukan umat yakni: BERDIRI dari awal hingga akhir syahadat dan MEMBUNGKUK saat mengucapkan kalimat: yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria (Saat Perayaan Natal bagian ini diucapkan sambil berlutut)

5.1.3. Tata Gerak dan Sikap Tubuh Liturgis dalam Liturgi Ekaristi

48.     Persiapan persembahan: Tata gerak liturgis selama persiapan persembahan adalah:

a. Petugas persembahan mengadakan perarakan, sementara itu umat duduk.

(i). Perarakan hanya diadakan jika yang dihantarkan adalah roti dan anggur. Jika roti dan anggur tidak dihantarkan, tidak ada perarakan. Bahan-bahan lain tetap dihantarkan ke depan tetapi tidak sebagai perarakan.

(ii).Setelah bahan persembahan diterima, saat petugas akan kembali, imam tidak memberkati petugas, cukup dengan mengucapkan terima kasih dan menganggukan kepala.

b.  Umat berdiri: Saat imam mengajak umat untuk berdoa setelah bahan persembahah siap di altar dengan kata-kata: berdoalah saudara-saudari ……, dilanjutkan dengan doa persiapan persembahan dan prefasi (saat mengucapkan/menyanyikan kudus).

49.     Doa Syukur Agung

a. Selama Doa Syukur Agung umat berlutut, KECUALI pada saat-saat berikut:

(i). saat imam mengucapkan: terimalah dan makanlah….: umat MELIHAT/MEMANDANG KE HOSTI

(ii).    saat imam mengangkat hosti dan memperlihatkan ke umat …. umat MENYEMBAH dengan cara: MEMBUNGKUKKAN BADAN DENGAN TANGAN TERKATUP DI DADA atau MEMBUNGKUKKAN BADAN DENGAN TANGAN TERKATUP DIANGKAT KE ATAS

(iii).   saat imam meletakkan hosti kemudian berlutut/membungkuk, umat MENGANGGUKKAN KEPALA

(iv).   saat imam mengucapkan: terimalah dan minumlah …. sambil berlutut umat MELIHAT KE PIALA

(v).   saat imam mengangkat piala dan memperlihatkan ke umat …. Umat MENYEMBAH dengan cara: MEMBUNGKUKKAN BADAN DENGAN TANGAN TERKATUP DI DADA atau MEMBUNGKUKKAN BADAN DENGAN TANGAN TERKATUP DIANGKAT KE ATAS

(vi).    saat imam meletakkan piala kemudian berlutut/membungkuk, umat MENGANGGUKKAN KEPALA

b.  Saat konsekrasi, Imam tidak boleh memecahkan Hosti. Tindakan pemecahan roti hanya boleh dilakukan pada saat pengucapan Anak Domba Allah.[28]

c.  Komuni

(i).     Doa damai: umat berdiri

(ii)     Setelah doa damai umat diberi kesempatan untuk saling mengucapkan salam damai dengan ketentuan:

1.  Salam damai bukan rubrik atau ritual tersendiri melainkan bagian integral dari doa damai, dan hanya dilakukan sesaat sebelum komuni

2.  Salam damai ini hanya menandakan perdamaian, kesatuan dan cinta kasih sebelum menerima Tubuh Kristus bukan suatu tindakan rekonsiliasi/penghapusan dosa.[29]

3.  Salam damai hanya dilakukan terhadap orang berdekatan, tidak boleh berjalan ke mana-mana dan membuat gaduh sehingga mengganggu kesakralan Misa, juga tidak dengan nyanyian.

4.   Imam tidak boleh meninggalkan panti imam

(iii). Pemecahan roti: Umat berlutut sambil mengucapkan atau me nyanyikan Anak Domba Allah.[30]

(iv). Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus: Umat berarak dengan tangan terkatup di depan dada.

(v). Doa Sesudah Komuni: Umat berdiri

5.1.4. Dalam Ritus Penutup

50.   Berkat: Umat berdiri

51.   Pengutusan: Umat berdiri

52.  Perarakan keluar: Umat berdiri, lalu Imam, peserta perarakan dan SELURUH UMAT menghormati altar dengan membungkukkan badan.

5.2. Tanda Salib Liturgis

53.     Tanda Salib yang dibuat dalam Perayaan Ekaristi (tanda salib liturgis) pada prinsipnya mengikuti petunjuk praktis yang ada di buku TPE halaman 5

54.     Secara Liturgis hendaknya tanda salib tidak dilakukan setelah pernyataan tobat;  saat absolusi pada ritus tobat; sebelum dan sesudah homili (imam tidak perlu menandai diri dengan tanda salib); penghantaran bahan-bahan persembahan (tidak perlu diakhiri dengan berkat cukup dengan menganggukkan kepala).

55.     Walau demikian, tidak menutup kemungkinan (tidak dapat melarang) ada umat yang pada momen-momen tertentu selama Perayaan Ekaristi membuat tanda salib. Tanda salib tersebut harus dipahami lebih bersifat pribadi dan berdasarkan disposisi iman (devosional) bukan sebagai gerakan liturgis (gerakan bersama)

5.3. Pemilihan Nyanyian

56.     Nyanyian-nyanyian yang terdapat dalam TPE yakni: Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus dan Agnus Dei TIDAK BOLEH DIGANTI dengan nyanyian lain dan oleh karena itu hendaknya memperhatikan petunjuk berikut ini:[31]

a. Kyrie dan pernyataan tobat: Jika imam menggunakan pernyataan tobat cara 3 dan 4, maka kyrie tidak perlu dinyanyikan lagi, dilanjutkan dengan kemuliaan. Demikian sebaliknya, jika kyrie menggunakan lagu-lagu PS no. 357, 359 dan sejenisnya (lagu kyrie yang juga berfungsi sebagai pernyataan tobat cara 3 dan 4) maka pernyataan tobat tidak perlu diucapkan, dilanjutkan dengan kemuliaan

b. Gloria: Lagu-lagu yang boleh digunakan untuk pengganti gloria adalah lagu-lagu yang teksnya memuat secara lengkap rumus gloria dan sudah disahkan oleh KWI

c. Credo: Lagu-lagu yang boleh digunakan untuk pengganti credo adalah lagu-lagu yang teksnya memuat secara lengkap rumus credo dan sudah disahkan oleh KWI. Di PS hanya no, 374 dan 375 merupakan lagu credo. Sedangkan lagu No 583 dan 584 bukan lagu credo.

c. Sanctus: Merupakan bagian tak terpisah dari prefasi. Jika dinyanyikan harus dijaga agar antara seruan ajakan imam dan jawaban umat dalam nyanyian sanctus tidak terjadi jeda yang cukup lama. Maka sebaiknya nomor lagu untuk sanctus diumumkan sebelum prefasi

57.     Petugas petugas koor, dirigen dan imam yang memimpin Perayaan Ekaristi dalam memilih nyanyian pembuka, mazmur tanggapan, persiapan persembahan, nyanyian komuni dan nyanyian penutup hendaknya memperhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini:[32]

a.  nyanyian pembuka: sesuai dengan tujuannya yakni membuka misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, menghantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya (PUMR 2002 no. 47), maka hendaknya nyanyian berlangsung sampai imam dan petugas lainnya berada di tempatnya masing-masing (jangan sampai nyanyian selesai tetapi prosesi perarakan belum selesai), sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi dan teksnya sudah disahkan oleh KWI.[33]

b. mazmur tanggapan: karena memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting yakni menopang permenungan atas Sabda Allah, maka mazmur tanggapan sebaiknya dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat, jika tidak bisa dilagukan sebaiknya didaraskan, dan diambil dari Buku Bacaan Misa atau bisa diganti Buku Mazmur Tanggapan yang sudah diterbitkan oleh KWI.[34]

c. nyanyian persiapan persembahan: sesuai dengan perannya yakni mengiringi perarakan bahan persembahan (roti dan anggur), maka sebaiknya nyanyian itu berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan tertata di atas altar dan teksnya sudah disahkan oleh KWI. Jika roti dan anggur tidak dihantarkan, maka tidak ada perarakan persembahan dan karenanya tidak perlu nyanyian.[35]

d. nyanyian komuni: sesuai dengan fungsinya yakni agar umat yang secara batin bersatu dalam komuni juga menyatakan persatuannya secara lahir dalam nyanyian bersama, dan menunjukkan kegembiraan hati serta mengiringi perarakan komuni, maka nyanyian komuni berlangsung selama umat menyambut, dan berhenti jika umat seluruhnya sudah menyambut  atau tidak ada lagi perarakan komuni (karena setelah sambut harus masuk dalam suasana hening dan dilanjutkan dengan madah pujian), serta teksnya sudah disahkan oleh KWI.

e. nyanyian penutup: tidak wajib (boleh ada boleh tidak). Jika diadakan, jangan terlalu panjang agar umat bisa lebih masuk ke dalam pembatinan diri dan teksnya sudah disahkan oleh KWI.

5.4. Saat Hening

58.     Saat hening merupakan bagian Perayaan Ekaristi dengan arti dan maksudnya berbeda-beda seturut makna bagian yang bersangkutan.[36]

59.     Saat hening yang wajib diadakan selama Perayaan Ekaristi adalah:

a. Sebelum pernyataan tobat: umat mawas diri, tugas imam untuk mengajak umat masuk dalam keheningan

b. Sesudah ajakan berdoa pada doa pembuka: umat berdoa dalam hati, tugas imam untuk mengajak umat masuk dalam keheningan

c. Setelah Bacaan I, II dan Homili: umat merenungkan sabda/amanat Tuhan yang baru didengar, tugas lektor setelah membawakan bacaan I dan II, dan imam setelah menyampaikan homilinya, mengajak umat hening sejenak

d. Sesudah komuni, selama imam membersihkan bejana: umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati, tugas komentator untuk mengajak umat masuk dalam keheningan dan dilanjutkan dengan madah pujian.[37]

e. Sesudah ajakan berdoa pada doa sesudah komuni: umat berdoa dalam hati, tugas imam untuk mengajak umat masuk dalam keheningan

60.     Pada saat hening, khususnya sesudah sambut komuni, tidak boleh ada bunyi musik/instrumentalia

5.5. Tata Ruang

61.     Tempat duduk lektor, pemazmur dan petugas tak lazim untuk komuni suci di sekitar panti imam, dekat dengan mimbar sabda (ambo), tidak menjadi satu dengan umat atau koor.[38] Jika di sekitar panti imam tidak memungkinkan, Lektor, Pemazmur dan Pelayan Tak Lazim untuk Komuni mengambil tempat di baris paling depan dekat mimbar sabda.

62.     Mimbar sabda hanya digunakan oleh: lektor dan pemazmur saat mewartakan Sabda dan membawakan doa umat, dan imam saat mewartakan Injil dan menyampaikan homilinya

63.     Imam memimpin Perayaan Ekaristi dari tempat duduknya, kecuali saat mewartakan sabda dan homili (dari mimbar sabda) dan saat Liturgi Ekaristi (dari altar). Untuk memperlancar tugas imam, sebaiknya di depan tempat duduk imam disediakan sebuah penyangga untuk tempat buku (bukan mimbar, seperti tempat unutk dirigen meletakkan teks/buku lagu)

64.     Komentator melaksanakan tugasnya tidak dari mimbar sabda, tapi dari tempat lain, di luar panti imam, misal: dari tempat dirigen atau tempat khusus

65.     Pengumuman tidak disampaikan dari mimbar sabda, tapi dari tempat lain, di luar panti imam, misal: dari tempat dirigen atau tempat khusus.

5.6. Altar dan Hiasannya

66.     Untuk menghormati perayaan-perayaan akan Tuhan dan perjamuan Tubuh dan Darah-Nya, pantaslah jika altar dihias dengan memperhatikan ketentuan berikut:

a.  Hiasan bunga: tidak berlebihan, tidak boleh diletakkan di atas mimbar sabda karena mengganggu kontak lektor dengan umat, tidak boleh di atas altar melainkan di sekitar altar dan tidak lebih tinggi dari altar, karena altar adalah meja kurban, meja persembahan hanya boleh diisi dengan Injil dan lilin (dari awal sampai akhir Perayaan Ekaristi), piala dengan patena, sibori, korporale, purifikatorium, misale (dari persiapan persembahan sampai pembersihan bejana) dan mike yang harus diatur secara cermat.[39]

b. Selama masa Adven altar boleh dihias dengan bunga namun secara sederhana yang mencerminkan ciri khas masa adven yakni masa penantian penuh suka cita, tetapi tidak boleh mengungkapkan sepenuhnya sukacita kelahiran Tuhan.[40]

c. Selama masa Prapaskah, altar tidak dihias dengan bunga kecuali Minggu Prapaskah IV, Hari Raya dan Pesta yang terjadi pada masa ini.sebagai tanda suka cita.[41]

5.7. Busana Liturgis

67.    Dalam Perayaan Ekaristi, busana liturgis mempunyai peran dan makna yang penting yakni: menunjukkan dan menandakan tugas khusus masing-masing pelayan (tugas yang berbeda-beda dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda) dan menambah keindahan perayaan liturgis.[42]

68.     Busana liturgis yang lazim dikenakan oleh semua pelayan liturgi (tertahbis maupun tidak tertahbis) adalah alba dengan singel, kecuali jika bentuk alba itu memang tidak menuntut single.[43]

69.    Untuk lektor, pemazmur dan petugas tak lazim untuk komuni suci jika tidak menggunakan alba boleh dalam bentuk busana lain dengan tetap memperhatikan warna liturgis dan sudah disahkan oleh Konfrensi Uskup untuk wilayah Gerejawi yang bersangkutan.[44]

70.    Komisi Liturgi Keuskupan ditugaskan untuk merancang pakaian liturgi lektor, pemazmur dan petugas tak lazim untuk komuni suci.

71.     Selama pakaian liturgis belum diadakan, Lektor-Pemazmur-dan Pelayan tak lazim untuk komuni suci memakai pakaian yang pantas.

5.8. Tempat Tabernakel

72.     Pusat liturgi adalah altar, bukan tabernakel. Maka tempat tabernakel harus dipindahkan dari belakang altar ke samping altar. Jika memungkinkan dibangun ruang khusus di salah satu bagian gereja sehingga cocok untuk berdoa (adorasi).[45]

5.9   Sisipan Dalam Misa

73.     Perayaan Misa sama sekali tidak boleh disisip dalam suatu perjamuan biasa yang sedang berlangsung, tidak juga boleh digabungkan dengan perjamuan yang demikian[46]

74:     Dalam Perayaan Misa boleh disisipkan doa-doa (intensi misa) baik yang bersifat pribadi maupun bersama sebagai paroki, dengan ketentuan:

1. Doa-doa itu pada prinsipnya adalah doa umat

2. Sebagai doa umat, maka tempat yang tepat untuk sisipan adalah dalam bagian Doa Umat

75.     Pembaca doa, setelah membacakan doa umat sesuai dengan ketentuan yang berlaku yakni untuk keperluan Gereja, untuk keperluan pemerintah/dunia, untuk keperluan orang-orang yang sedang menderita dan untuk umat setempat, dapat melanjutkan membacakan ujub (intensi) doa tsb.

PENUTUP

76.   Hendaknya seluruh umat beriman mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi dengan sepenuhnya, sadar dan aktif seturut kemampuannya[47]

77.    Hendaknya seluruh umat menghormati Ekaristi dengan cinta yang diungkapkan dalam devosi dan cara hidup.

78.   Dengan berlakunya TPE 2005 hendaknya dseluruh umat, Imam dan Diakon memperhatikan dan menyelidiki diri tentang benar dan tepatnya semua tindakan yang telah dilakukan atas nama Kristus dan Gereja dalam Liturgi Kudus.[48]

79.    Instruksi ini disahkan di Pangkalpinang, 02 Agustus 2005, pada hari Ulang Tahun Imamat saya, dan dengan demikian  diterbitkan dan dapat dilaksankan oleh seluruh umat, Imam dan Diakon sesuai dengan tugas masing-masing dan dalam kebersamaan demi Kemuliaan Allah dan Pengudusan kita.

Mgr Hilarius Moa Nurak SVD

Uskup Pangkalpinang


[1] Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Instruksi, Menuju Persaudaraan Sejati, tentang Pelaksanaan Karya Pastoral di Keuskupan Pangkalpinan Pasca Evaluasi Sinode 2000.

[2] SC, no. 48, Kan. 838 § 1.

[3] Kan. 331, LG, no. 22.

[4] Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, no. 52

[5] CD, no. 15, SC. No.41, Kan. 387.

[6] Kan. 838 § 4; 397 § 1; 678 § 1.

[7] Bdk. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus, no. 21, SC. 45-46.

[8] Kongegasi Ibadat, Instruksi 6 :Sakramen Penebusan, no. 29.

[9] Ibid, no. 30; Bdk juga SC, no. 7

[10] Ibid. no. 33

[11] Kan.1246 § 1; SC 106

[12] PUMR 2002 no. 380-381; KomLit KWI, Penanggalan Liturgi 2006, Tahun B/II

[13] Lih. Bab II

[14] Instruksi Sakramen Penebusan no. 81

[15] Ibid, no. 80.

[16] Kan. 918.

[17] Instruksi Sakramen Penebusan dan SK Uskup tentang Kebijakan Pastoral Dalam Bidang Liturgi tahun 1997

[18] Kan. 952

[19] Kan. 900.

[20] Istruksi Sakramen no. 154.

[21] Kan. 230 § 3

[22] Instruksi Sakramen Penebusan,. 151

[23][20] Ibid,, no. 156.

[24] Ibid, no. 158

[25] Tata Perayaan Ekaristi 2005

[26] Komisi Liturgi KWI, TPE 2005, hal. 5-8; PUMR 2002, no. 42-44.

[27] bdk PUMR 2002 no. 43.

[28] Instruksi Sakramen Penebusan, no. 55.

[29] Instruksi Sakramen Penebusan no. 71, 72.

[30] nstruksi Sakramen Penebusan,  no. 73.

[31] PUMR 2002 No. 366.

[32] bdk PUMR 2002 no. 367.

[33] bdk PUMR 2002 No. 48.

[34] bdk PUMR 2002 no. 61.

[35] bdk PUMR 2002 no. 74.

[36] bdk PUMR 2002 no 45.

[37] bdk PUMR 2002 no 43 dan 45.

[38] bdk PUMR 2002 no. 310.

[39] bdk PUMR 2002 no 305 dan 306.

[40] bdk PUMR 2002 no 305.

[41] bdk PUMR 2002 no 305.

[42] bdk PUMR 2002 no. 335.

[43] bdk PUMR 2002 no. 336.

[44] bdk PUMR 2002 no. 339.

[45] bdk PUMR 2002 no 314.

[46] Instruksi Sakramen no 77

[47] Instruksi Sakramen 186; SC 14.

[48] Instruksi Sakramen, no,. 186

Kategori:Seksi Liturgi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: