Beranda > Seksi Liturgi > Seputar Liturgi

Seputar Liturgi

LITURGI

I. Pengertian Liturgi

1.a. Pengantar

Kata liturgi berasal dari bahasa Yunani, leitourgia. Secara harafiah kata ini berarti suatu karya yang dibaktikan kepada bangsa. Dalam perkembangannya, ketika kata ini diadopsi oleh bangsa-bangsa lain, kata leitourgia memiliki arti yang lebih luas, yaitu pelayanan ibadat.

Dalam Kitab Suci, kata leitourgia berarti pelayanan imam, namun berkembang dan digunakan untuk menggambarkan makna keimaman Yesus. Imamat Yesus merupakan pelayanan yang sangat agung.
Dalam perkembangan sejarah gereja, kata liturgi digunakan untuk menunjukkan aktivitas ibadat atau doa Kristiani. Di sini istilah liturgi sudah mulai dibatasi, hanya mencakup perayaan ibadat yang dilakukan oleh uskup, imam dan diakon.

1.b. Pengertian Liturgi Secara Populer

Di kalangan umat, “liturgi” biasa dipahami sebagai upacara atau upacara publik Gereja. Kalau orang berbicara mengenai liturgi orang akan langsung berpikir tentang urutan upacara, para petugas, peralatan yang harus ada, dan sebagainya. Singkatnya, ada kecenderungan untuk melihat liturgi hanya dari segi-segi luarnya, dari segi aturan dan rumusannya, yang walaupun penting juga namun belum menyentuh makna dan hakikat liturgi yang sesungguhnya.

1.c. Pengertian Liturgi Menurut Konsili Vatikan II

Liturgi merupakan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu kepala dan para anggota-Nya. Tugas imamat Kristus adalah melaksanakan karya keselamatan Allah. Karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus itu kini selalu dikenang dan dihadirkan oleh Gereja di dalam liturgi.

Maka secara sederhana pengertian dan definisi liturgi adalah: Perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.

II. Struktur dan Bentuk Liturgi

A. Struktur Liturgi

Yang dimaksud dengan sturktur liturgi adalah bagaimana liturgi disusun dan dibangun. Di sini kita akan merefleksikan berbagai unsur dan hal yang membangun susunan liturgi, baik menurut isi teologisnya, maupun menurut bentuk ungkapannya.

1. Dialogis : anabatis-katabatis

Liturgi adalah suatu perayaan, perayaan perjumpaan antara Allah dan manusia. Di sini ada dimensi komunikasi, dari atas dan dari bawah. Komunikasi ini berbentuk dialog.

Pertama-tama Allah, dalam diri Kristus, memanggil, mengumpulkan, dan memilih jemaat umat Allah dan memuliakan Allah. Dari sini nampak bahwa Allah-lah yang berinisiatif. Dalam pertemuan ini, Allah menawarkan kasih agar manusia memiliki kesempatan untuk berperan dalam hidup Allah.
Dalam struktur liturgi, dimensi Allah yang menawarkan diri itu disebut segi katabatis, segi menurun dari Allah. Inilah segi pengudusan Allah yang merupakan karunia bagi manusia. Terhadap tawaran Allah ini manusia hanya menanggapi. Tanggapan manusia itu disebut segi anabatis, yaitu segi gerakan ke atas atau naik. Inilah segi penyembahan dalam struktur liturgi.

Perlu ditambahkan bahwa paham komunikasi dalam liturgi bisa dilihat menurut dimensi vertikal dan horisontal. Dimensi vertikal adalah komunikasi antara Allah dan jemaat, sedangkan dimensi horisontal adalah komunikasi antara jemaat sendiri.

2. Anamnesis

Perayaan liturgi merupakan perayaan misteri kehadiran karya keselamatan Allah dalam Kristus yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Kristus. Peristiwa tersebut dirayakan dan dihadirkan dalam liturgi dalam bentuk anamnese. Anamnese adalah bahasa Yunani yang berarti pengenangan, dalam bahasa Latin memoria.
Pengenangan ini bukan sekadar berarti usaha untuk mengingat-ingat secara subjektif dan rasional, melainkan suatu penghadiran tindakan keselamatan Allah dari masa lampau pada masa kini secara objektif dan nyata dalam perspektif masa depan. Penghadiran tersebut dimungkinkan dengan memperhatikan tiga hal berikut:

  1. Tindakan Allah selalu berlaku
  2. Iman jemaat
  3. Roh Kudus yang menghubungkan peristiwa keselamatan itu dengan diri jemaat.
    Apa yang dikenang dan dihadirkan di dalam liturgi Gereja sebetulnya bukan hanya misteri wafat dan kebangkitan kristus saja, tetapi seluruh hiduo yesus. Maka anamnese selalu mencakup tiga dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan.

3. Epiklese

Epiklese berarti seruan permohonan bagi turunnya Roh Kudus. Tujuan doa permohonan ini adalah agar Allah berkenan mengutus Roh Kudus-Nya untuk menyucikan atau menguduskanbsuatu pribadi atau barang/benda tertentu. Struktur epiclesis menjamin liturgi dari kemungkinan pandangan magis. Pandangan magis adalah paham yang meyakini dan melihat bahwa sumber pnegudusan mengalir langsung dari benda atau mantra kata-kata yang diucapkan pemimpin.

Struktur anamnesis dan epiklesi merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

4. Simbolis

Perayaan liturgi merupakan perayaan kehadiran realitas keselamatan Allah dalam Kristus yang dilaksanakan di dalam rangka dunia dan sejarah. Karena liturgi berdimensi historis dan antropologis inilah maka liturgi memiliki sifat simbolis. Struktur simbolis itu mengalir dari realitas partisipasi kita dalam liturgi surgawi yang masih terjadi “dalam cermin” dan belum dalam keadaan sebagaimana Allah mengalami.
Tidak ada perayaan liturgis yang tidak dilaksanakan dalam bentuk simbol. Maka, terdapat secara melimpah ruah simbol dan tanda liturgis. Macam-macam simbolisasi liturgi akan dibahas dalam bagian bentuk ungkapan liturgi.

B. Bentuk Ungkapan Liturgi

Tindakan liturgi memiliki makna teologis dan antropologis. Dalam arti antropologis, liturgi selalu bergerak dalam makna simbolis. Simbolisasi liturgi ini bukan hanya soal ungkapan lahir dari apa yang menjadi isi batin yang dilambangkan. Simbolisasi juga berkaitan dengan esensi manusia yang adalah makhluk simbolis.
Ada aneka ragam bentuk ungkapan liturgi. Membahas berbagai bentuk ungkapan liturgi dalam bab mengenai struktur dan bentuk liturgi itu berarti, kita harus senantiasa memandang bentuk ungkapan simbolis liturgi sebagai bagian dari pemahaman struktur liturgi.

1. Diri Manusia

Pertama-tama harus dipahami bahwa manusia itu sendiri, yaitu umat beriman sudah merupakan bentuk ungkapan liturgi itu sendiri. Pertemuan umat beriman dalam liturgi menunjuk kepada umat Allah yang dipanggil, dikumpulkan, dan dipilih bagi karya penebusan Kristus dan pemuliaan Allah.
Gerak perjumpaan orang-orang dari berbagai kelompok, suku, tingkatan, dan keluarga mengungkapkan tindakan Allah yang mempersatukan semua orang kepada keselamatan Allah yang berupa pengudusan umat dan pemuliaan Allah.

2. Tindakan Indrawi Manusia

a. Kegiatan indra mendengarkan

Mendengarkan bukanlah tindakan pasif, melainkan tindakan aktif. Ketika seseorang mendengarkan, ia membuka diri dengan sadar, sapaan, suara, atau kata-kata dari luar diri kita. Mendengarkan juga tindakan aktif untuk memberi perhatian dan masuk ke dalam diri pribadi si pembicara, serta dengan sadar mau mengambil bagian dalam peristiwa yang diperdengarkan itu.

Mendengarkan adalah bentuk ungkapan liturgi yang menyatakan kesiapsediaan iman dan ketaatan.

b. Kegiatan indra melihat

Melihat adalah bentuk liturgi untuk melihat kemuliaan Allah. Melalui penglihatan mata kita, kita menyadari dunia dan isinya dan kita pun menjalin relasi dengan sesama manusia dan dunia. Demikiann pula dengan penglihatan mata dalam liturgi, kita menyadari komunikasi Allah yang terpantul melalui berbagai simbol liturgi dan dengan demikian menjalin relasi kita dengan Allah dan sesama jemaat.

c. Kegiatan indra menyentuh

Liturgi juga mengunakan indra sentuhan sebagai simbol liturgi. Tindakan menyentuh dalam liturgi menggambarkan persekutuan kita dengan Allah dan dengan sesama umat beriman dan persekutuan dengan Roh Kudus.

d. Kegiatan indra merasakan

Indra merasakan juga dipakai dalam liturgi. Perayaan ekaristi merupakan perayaan perseku-tuan kita dengan Tuhan yang tidak hanya terjadi secara rohani, melainkan juga menggunakan aspek fisik. Dalam perayaan ekaristi kita menyantap, mencecap, dan merasakan Tubuh (dan Darah) Kristus dengan lidah dan mengunyahnya dengan gigi.

e. Kegiatan indra membau

Indra penciuman juga digunakan dalam liturgi. Penggunaan dupa dan ratus wangi, penggu-naan minyak wangi-wangian adalah contoh konkret. Keharuman merupakan simbol ungkapan pujian hormat dan kurban.
3. Gerakan dan Bahasa Badan Manusia

a. Berjalan

Berjalan adalah gerakan manusia yang paling dasar. Dalam liturgi pun, berjalan merupakan simbol liturgis yang paling dasar. Berjalan dalam liturgi bukanlah sekedar jalan, tapi berjalan dengan ritme tertentu yang menunjukkan keanggunan dan keagungan. Berjalan merupakan pula ungkapan kesiapsediaan untuk secara aktif menyambut dan menanggapi tawaran kasih Allah.

b. Berdiri

Berdiri merupakan simbol liturgi yang mengungkapkan perhatian, kepedulian, penghormatan, dan kesiapsediaan akan kehadiran Tuhan. Dengan berdiri, umat menyambut kehadiran Tuhan melalui diri pemimpin ibadat, sabda, dan doa. Umat berdiri tatkala perarakan masuk imam dan pengiringnya, saat injil dibacakan, saat mendoakan syahadat dan saat mendoakan bapa kami.

c. Duduk

Pada umumnya, duduk dianggap sikap tenang untuk mendengarkan sesuatu atau untuk menanti sesuatu ataupun untuk beristirahat. Dalam liturgi, sikap duduk melambangkan kesiapsediaan umat beriman untuk mendengarkan sabda Tuhan.

d. Berlutut dan membungkuk

Membungkuk dan berlutut menggambarkan makna yang sama, yaitu sikap merendahkan diri dan menyadari kekecilan dan kekerdilan di hadapan Tuhan. Keduanya juga mengungkapkan penghormatan, rasa segan, dan kerendahan hati. Dalam liturgi, dua sikap ini mengungkapkan tanda pertobatan yang dalam.

e. Meniarap

Gerakan meniarap dalam liturgi merupakan ungkapan penghormatan dan perendahan diri yang paling intensif. Dengan kata lain, gerakan meniarap merupakan kelanjutan tindakan berlutut dan membungkuk, namun secara paling intensif. Biasanya, tindakan meniarap hanya di lakukan oleh orang-orang tertentu. Misalnya dalam liturgi tahbisan, kaul kekal, dan tidak pernah dilakukan oleh seluruh jemaat.

f. Tangan terkatub, terangkat, dan terentang

Ketiga gerakan ini, meski kelihatan hanya menyangkut bagian tangan, namun mengungkapkan seluruh gerakan manusia. Gerakan ini melambangkan perjumpaan antara Allah dan manusia, sikap hormat, permohonan, dan penyerahan diri. Hal itu juga mengungkapkan ketidakber-dayaan kita, kekosongan dan kemiskinan kita. Biasanya gerakan ini dilakukan oleh pemimpin ibadat.

g. Penumpangan tangan

Kitab suci banyak menyebut tindakan simbolis penumpangan tangan. Melalui penumpangan tangan, terjadilah suatu pengalihan atau pelimpahan: kepemilikan, kesalahan, tanggungjawab, kuasa roh.
Penumpangan tangan juga melambangkan permohonan atau penganugerahan berkat. Dalam Perjanjian Baru, penumpangan tangan menjadi ritus sacramental untuk pelimpahan atau penganugerahan Roh Kudus, dan untuk pelimpahan wewenang atau kuasa (tahbisan).

h. Tanda salib dan berkat

Tanda salib dalam liturgi, adalah gerakan tangan yang digunakan untuk diri sendiri dan bisa untuk orang lain. Sedangkan pemberian berkat selalu diberikan oleh seseorang (imam) kepada orang lain. Tanda Salib merupakan tanda Kristus. Mereka yang diberi tanda salib berarti milik Kristus. Pemberkatan dengan tanda salib atas orang atau benda menunjuk pada pelimpahan kuasa dan daya Allah yang menyelamatkan dan menunjuk bahwa mereka (orang atau benda) itu adalah milik Kristus.

i. Menepuk dada

Menepuk dada merupakan sejenis ungkapan penyesalan diri dan pengakuan bahwa dirinya bersalah dan berdosa. Dalam perayaan ekaristi, menepuk dada dilakukan pada saat pengakuan dosa.

j. Ciuman dan jabatan tangan

Pada budaya tertentu yang biasa dengan ungkapan ciuman, maka ciuman (pipi) menjadi simbol liturgi yang menunjuk sikap penghormatan dan persaudaraan yang erat dan akrab. Dalam berbagai budaya yang lain, juga dalam perkembangan kekristenan, kebiasaan ciuman sebagai ungkapan persaudaraan,diganti dengan tindakan berpelukan dan berjabat tangan.

k. Pembasuhan tangan

Cuci atau pembasuhan tangan dalam liturgi berkaitan dengan ungkapan pembersihan dosa. Dalam liturgi ekaristi, imam berdoa, “ Ya Tuhan, bersihkanlah aku dari kesalahanku, dan cucilah aku dari dosaku”, tatkala ia membasuh tangan pada saat persembahan.

4. Alat-alat Liturgi Alami

a. Air

Menurut sejarah religi, air memiliki makna yang penting. Air dipandang sebagai sumber kesuburan dan kehidupan. Di mana ada air tanah menjadi subur dan makhluk hidup bisa berkembang dengan baik. Sebaliknya, air juga bisa menjadi kekuatan yang menghancurkan, misalnya dalam bencana tsunami, banjir dan air bah.

Dalam perayaan liturgi, air memiliki makna simbolis untuk mengungkapkan pembersihan dosa dan penganugerahan keselamatan dan hidup baru. Hal ini nampak misalnya dalam liturgi baptisan.

b. Roti dan anggur

Roti dan anggur masih dipandang sebagai unsur alami, meskipun roti dan anggur sudah merupakan olahan manusia. Sebab roti dan anggur menjadi tanda ungkapan partisipasi manusia dalam pengolahan alam bagi hidup manusia itu sendiri. Penggunaan roti dan anggur dalam liturgi berkaitan dengan maknanya sebagai makanan dan minuman yang memberikan kehidupan.

Roti dan anggur dalam perayaan ekaristi memiliki dua makna, pertama menjadi lambang hasil bumi dan usaha manusia. Kedua menjadi lambang karunia hidup ilahi.

c. Minyak

Minyak yang biasanya digunakan dalam liturgi pada umumnya minyak yang dibuat dari pohon zaitun. Namun karena sulitnya mencari tanaman zaitun, maka bisa digunakan minyak yang lain asal berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Menurut Kitab Suci, minyak digunakan untuk pembuatan makanan, pengurapan yang memberi kegembiaran dan kekuatan, membuat penerangan dan obat penyembuh. Pengurapan dengan minyak merupakan lambang pengurapan menjadi raja, seperti yang dialami oleh Saul dan Daud. Pengurapan dengan minyak juga berarti simbol bagi anugerah kepenuhan hidup dan kesuburan. Dengan pengurapan itu diungkapkan bahwa Allah kini bersama mereka.

Dalam liturgi Kristiani, minyak pertama-tama dipakai untuk melambangkan daya kuasa Allah yang menyembuhkan. Minyak merupakan tanda daya kekuatan Allah yang memberi kekuatan bagi perjuangan hidup ini (pengurapan minyak pada katekumen dan krisma) dan tanda penyertaan Allah dalam tugas kepemimpinan (tahbisan). Dalam liturgi dibedakan tiga macam minyak urapan: OI (Oleum Infirmorum) untuk orang sakit, OC ( Oleum Catechumenorum) untuk katekumen, dan SC (Sanctum Oleum Chrisma) untuk krisma.

d. Api dan terang

Api dan terang adalah simbol yang tidak terpisahkan. Dalam tradisi religius, api dan cahayanya dipandang sebagai karunia Allah yang memberikan kehidupan dan pembersihan diri manusia.
Sedangkan dalam tradisi liturgi Kristiani memberi makna baru bagi lambing api dan cahayanya menurut misteri Paskah Kristus. Bagi orang Kristiani, api dan cahayanya melambangkan terang Kristus sendiri yang telah bangkit dari wafat-Nya.

Pada Malam Paskah, Kristus diproklamasikan sebagai terang dan cahaya sendiri yang berkat kebangkitan-Nya telah menganugerahkan keselamatan dan menghalau kegelapan dan kuasa dosa.

e. Dupa ratus dan bahan wangi-wangian

Dupa ratus dan wangi-wangian dipakai dalam liturgi Kristiani sebagai ungkapan penghormatan kepada Allah. Kalau imam mendupai altar, tabernakel atau salib, sejatinya imam sedang menyampaikan penghormatan kepada Tuhan sendiri.

f. Garam dan abu

Dalam liturgi garam dipakai sebagai simbol pembersihan. Biasanya digunakan dalam liturgi baptisan dan pemberkatan air suci.

Abu biasanya dipakai pada hari Rabu Abu, untuk mengawali masa prapaskah. Abu digunakan untuk mengungkapkan rasa tobat dan penyesalan, pengakuan akan kerapuhan kita dan kelemahan kita. Abu juga melambangkan harapan akan kebangkitan.

5. Alat-alat Liturgi Buatan

(keterangan dan gambarnya lihat, baca, dan catatlah dari buku Mengenal Peralatan Liturgi tulisan I. Marsana Windu, Kanisius, Jogjakarta, 1997; atau bisa mencari sumber lain yang Anda anggap paling mudah.)

a. Piala
b. Patena
c. Korporale
d. Kain piala / purificatorium
e. Pala
f. Sendok kecil
g. Ampul
h. Cerek lavabo,
i. Sibori
j. Piksis
k. Monstran (lunula, kustodia)
l. Aspegril
m. Wiruk/Thuribulum
n. Navikula
o. Lilin
6. Pakaian Liturgi
a. Alba
b. Amik
c. Single
d. Stola
e. Kasula
f. Dalmatik
g. Superpli
h. Pluviale
i. Velum
j. Palium
7. Warna Liturgi
a. Putih dan kuning
b. Merah
c. Hijau
d. Ungu
e. Hitam
8. Ruang dan Waktu

Hidup dalam sejarah berarti hidup dalam ruang dan waktu. Dalam kehidupan manusia, tata ruang dan waktu memiliki makna simbolis. Liturgi Gereja menggunakan simbolisasi ruang dan waktu pula. Tata ruang dan waktu liturgi melambangkan perjumpaan umat beriman dan Allah sendiri dalam Kristus di sini dan sekarang.

Ruang liturgi memiliki dua fungsi besar. Pertama, ruang liturgi mengungkapkan kesatuan umat beriman dengan Kristus sebagai satu tubuh mistik Kristus, yakni kepala dan anggota-anggotanya. Dengan berada dalam satu ruang yang sama, tampilah realitas kesatuan umat beriman.

Waktu atau masa liturgi melambangkan misteri sejarah keselamatan Allah yang memuncak dalam misteri Paskah Yesus Kristus. Tata waktu liturgi tampak dalam pengaturan tahun liturgi, yang dibuka dengan Minggu Adven I, memuncak dalam perayaan Paskah dan berakhir dengan hari raya Kristus Raja Semesta Alam.

III. Perayaan Liturgi

i. Liturgi Sakramen

Liturgi sakramen berarti perayaan ketujuh sakramen. Pembahasan sakramen secara mendalam telah kita lihat dalam bab sebelumnya, maka disini tidak akan dijelaskan secara mendalam. Dalam bagan yang telah dibuat, dalam tata cara pelaksanaan sakramen, di situlah terdapat liturgi sakramen.

Secara sederhana pengertian liturgi sakramen bisa kami jelaskan demikian, perayaan kehadiran Yesus Kristus secara sacramental dalam Gereja-Nya menurut segi dan simpul kehidupan konkret manusia. Pengertian ini bisa kita uraikan dalam tiga pernyataan:

  1. Sakramen-sakramen adalah kehadiran Yesus Kristus dan Misteri penyelamatan-Nya
  2. Sakramen-sakramen adalah pelaksanaan Dasar dan Diri Gereja.
  3. Sakramen-sakramen adalah perjumpaan sakramental dengan Yesus Kristus dalam segi kehidupan konkret.

ii. Liturgi Sabda

Manusia tidak dapat terpisah dari sabda, kata, dan bahasa. Manusia mengungkapkan diri melalui bahasa. Bahkan seluruh misteri pewahyuan Allah kepada manusia disampaikan dan diterima manusia melalui kata dan bahasa. Kitab Suci senantiasa menunjuk dua hal, ungkapan dan isi/makna ungkapan itu. Keduanya merupakan satu kesatuan.

Gereja terbentuk dan lahir karena Sabda Allah pula. Gereja adalah kumpulan orang-orang beriman yang dipanggil dan dipilih oleh Kristus melalui sabda-Nya. Di mana sabda Yesus diwartakan dan diimani, di mana nama Tuhan diwartakan dan diserukan, di sanalah lahir dan hidup Gereja.

Maka dalam liturgi sabda, Kitab Suci memegang peranan penting. Menurut Tradisi, bacaan-bacaan Kitab Suci tidak pernah diganti dengan bacaan-bacaan lain, meskipun bacaaan itu sangat bermutu secara teologis.
Tata perayaan liturgi sabda adalah sebagai berikut. Sebagai pembanding kami paparkan juga liturgi ekaristi, sebab biasanya liturgi sabda terletak dalam liturgi Ekaristi, meskipun liturgi sabda bisa dilepaskan dari liturgi ekaristi.
Liturgi Sabda (ibadat sabda)
Liturgi Ekaristi (misa)
Menyadari Kehadiran Tuhan
Perarakan masuk diiringi lagu pembukaan
Tanda Salib
Salam
Kata pengantar
Menyadari kehadiran Tuhan
Tobat
Doa pembukaan
Mendengarkan Sabda
Bacaan pertama
Mazmur tanggapan
Bacan kedua
Bait pengantar Injil
Bacaan Injil
Aklamasi sesudah injil
Mendalami Sabda Allah/Khotbah/homili
Menanggapi Sabda
Menghormati Sabda
Pujian
Doa umat
Doa persatuan Anggota Tubuh Kristus
Salam Damai
Bapa kami
(komuni)
Diutus
Doa penutup
Pengumuman
Amanat Sabda
Berkat
Pengutusan

PEMBUKAAN
Perarakan masuk, Tanda Salib, Salam,
Pengantar, Tobat, Tuhan kasihanilah kami,
Madah kemuliaan, Doa pembukaan

LITURGI SABDA
Bacaan pertama, Mazmur Tanggapan,
Bacaan kedua, Bait pengantar Injil,
Bacaan Injil, Aklamasi sesudah Injil,
Homili, Syahadat, Doa umat

LITURGI EKARISTI
A. PERSEMBAHAN
Persiapan persembahan
Doa persembahan
B. DOA SYUKUR AGUNG
Dialog pembukaan,
Prefasi, Kudus,
Doa Syukur Agung
C. KOMUNI
Bapa kami, Embolisme, Doa damai,
Pemecahan Hosti, Persiapan komuni,
Membagi Tubuh (dan Darah) Kristus,
Saat hening, Madah syukur, Doa komuni

PENGUTUSAN
Pengumuman,
pengutusan

iii. Liturgi Harian

Liturgi harian atau disebut juga ibadat harian adalah liturgi resmi Gereja. Maka meskipun yang mendoakan ibadat harian itu hanya seorang umat beriman, doa orang tersebut merupakan doa resmi seluruh Gereja sendiri.
Liturgi harian merupakan perayaan kenangan karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam misteri Paskah, yakni wafat dan kebangkitan Kristus.

Ibadat harian mengungkapkan dimensi Gereja yang berdoa. Ibadat harian ingin melanjutkan tradisi Gereja yang berdoa di luar perayaan ekaristi.

IV. Unsur-unsur Liturgy

1. Pelayan Liturgi

Pelayan liturgi adalah orang yang oleh Gereja dipilih untuk memimpin dan menjadi unsur pokok/pelayan dalam pelaksanaan peribadatan atau liturgi. Maka pelayan liturgi bisa dibedakan menjadi dua kelompok, pelayan tertahbis dan pelayan tak tertahbis.

a. Pelayan tertahbis: Uskup, Imam dan Diakon

i. Wewenang dan tugas seorang Uskup

· mewartakan Injil sebagai guru dan pengajar iman

· menahbiskan uskup, imam dan diakon

· melayani sakramen krisma

· memimpin suatu keuskupan

· ikut serta dalam kepemimpinan seluruh gereja bersama paus dan kolegium para uskup
ii. Wewenang dan tugas seorang Imam

· mewartakan Injil

· merayakan perayaan-perayaan sakramen, terutama Ekaristi

· pelayanan reksa pastoral yang dipercayakan oleh uskup kepadanya dalam suatu daerah atau tugas  tertentu

iii. Wewenang dan tugas seorang Diakon

· Pewartaan Injil

· Merayakan perayaan-perayaan sakramen, terutama baptisan dan pemberkatan perkawinan.

· Membantu uskup dan para imam dalam tugas pelayanan liturgi ataupun reksa pastoral.

· Terlibat dalam pelayanan non-liturgi dalam Gereja.

b. Pelayan lainnya

i. Prodiakon

Tugas-tugas prodiakon (asisten imam)

  • membantu menerimakan Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi ataupun di luar perayaan Ekaristi, terutama dalam liturgi Sabda dan pengiriman komuni kepada orang sakit atau yang ada dalam penjara.
  • Melaksanakan tugas yang diberikan oleh pastor paroki, seperti: memimpin ibadat sabda, memberikan homili, memimpin liturgi pemakaman, doa lingkungan, dsb.

ii. Lektor

Tugas-tugas lektor

  • membacakan Sabda Tuhan, di mana Allah tidak hanya bersabda dan berbicara melainkan juga menjumpai umat-Nya, Allah hadir dengan sabda-Nya.
  • Mewartakan Sabda Tuhan. Para pewarta dalam tradisi Kitab Suci adalah para nabi. Mereka diutus untuk mewartakan suatu berita keselamatan Tuhan.
  • Menghadirkan Allah yang bersabda dalam bentuk simbol. Simbol yang paling jelas adalah diri lektor sendiri sebagai manusia. Melalui dirinya, suaranya, ekspresi kemanusiaannya, Allah hadir dan bersabda kepada umat-Nya.

iii. Akolit dan atau putra-putri altar/misdinar

Tugas akolit

  • melayani imam dan diakon yang sedang merayakan Ekaristi di altar
  • melayani imam atau diakon dalam perayaan nonsakramental yang memerlukan akolit atau misdinar, misal adorasi, pemakaman, pemberkatan, dll
  • dalam situasi tertentu membacakan bacaan Kitab Suci dalam liturgi, doa umat, dan mungkin memimpin nyanyian
  • dalam situasi tertentu dan darurat boleh membantu menerimakan komuni.

2. Masa Liturgi

Lingkaran liturgi

Masa liturgi adalah perayaan liturgi selama satu tahun. Saat ini ada satu “kalender” yang membuat seluruh perayaan di Gereja katolik menjadi sama. Kalender itu dibuka pada hari Minggu Adven pertama dan ditutup dengan hari raya Kristus Raja Semesta Alam.

Skema tahun liturgi bisa kita lihat demikian

Masa
Masa Adven
Masa Natal
Masa Biasa I
Masa Prapaskah
Masa Paskah
Masa biasa II

Warna
Ungu
Putih
Hijau
Ungu
Putih
Hijau

Pekan
4 minggu
1-2 minggu
7-8 minggu
6 minggu
8 minggu
24-25 minggu

Tahun A/B/C dan Tahun I/II

Bacaan-bacaan dalam perayaan liturgi/ekaristi sudah diatur agar dalam 3 tahun perayaan seluruh Kitab Suci sudah dibacakan. Untuk itu dibuat dua klasifikasi. Pertama klasifikasi tahun A/B/C, yakni klasifikasi untuk bacaan hari Minggu. Dan klasifikasi I/II untuk bacaan harian.

Tahun 2007 ini penanggalannya berklasifikasikan Tahun C/I. Artinya bacaan yang digunakan pada hari Minggu, bacaan injilnya mengambil dari injil Lukas. Sedangkan klasifikasi I, karena tahun ganjil.

Klasifikasi I ini mempengaruhi bacaan pertama dalam misa harian.

Contoh cara membaca penanggalan liturgi tgl. 11 Maret 2007

MASA PRAPASKAH

Seri Bacaan : Mingguan tahun C – Harian tahun I

Pekan III Prapakah O Pekan III

11 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH III (U). E Syah PrefKhus. BcE Kel 3:1-8a.13-15; Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.11; 1Kor 10:1-6.10-12; Luk 13:1-9. BcO Ibr1:1-24

Data penanggalan tersebut memberikan informasi tentang apa saja yang perlu dipersiapkan untuk Perayaan Ekaristi atau ibadat Sabda.

1)      “11 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH III” artinya tanggal 11 Maret adalah hari Minggu prapaskah ketiga dalam masa Prapaskah.

2)      “Pekan III Prapaskah” artinya mulai hari Minggu, 11 Maret 2007 hingga hari Sabtu, 17 Maret 2007, kita masuk dalam pekan ketiga Prapaskah.

3)      “(U)” maksudnya warna liturgi pada hari itu adalah ungu, maka perlu dipersiapkan kasula dan stola berwarna ungu. Ungu adalah lambang tobat.

4)      “E” berarti dalam perayaan ekaristi ada Syahadat dan doa prefasinya khusus untuk masa prapaskah.

5)      “BcE” berarti bacaan yang digunakan dalam perayaan Ekaristi

Bacaan pertama di ambil dari Kitab Keluaran bab 3 ayat 1 sampai ayat 8a dilanjutkan ayat 13 sampai 15.

Mazmur tanggapan di ambil dari Mazmur 103

Bacaan kedua diambil dari surat Rasul paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus bab 10 ayat 1 sampai 6 dilanjutkan ayat 10 sampai 12

Bacaan injil diambil dari Injil Lukas bab13 ayat 1 sampai 9

6)      “BcO” berarti bacaan yang digunakan dalam ibadat harian/liturgi harian, terutama untuk ibadat bacaan diambil dari surat kepada jemaat Ibrani bab 1 ayat 1 sampai 24

3. Ruang Liturgi

Ruang liturgi berarti tempat di mana perayaan liturgi itu dilangsungkan. Kerapkali ruang liturgi melingkupi gedung. Berikut ini kami paparkan beberapa macam ruang yang bisa diklasifikasikan sebagai ruang liturgi dan yang berkaitan dengan ruang.

a. Gereja

Kata Gereja berasal dari bahasa Portugis igreja. Asal usulnya dari bahasa Latin ecclesia dan berasal dari bahasa Yunani ekklesia yang berarti pertemuan atau rapat. Maka pengertian Gereja pertama-tama adalah jemaat yang berkumpul.

Untuk memudahkan pemahaman kata gereja dibedakan berdasarkan penggunaan hurup “G”. Jika kata Gereja menggunakan huruf G kapital, maka yang dimaksud adalah jemaat yang berkumpul. Tetapi jika kata gereja menggunakan huruf g biasa, maka yang dimaksud adalah gedung pertemuan yang dikapai oleh umat untuk berkumpul.

b. Kapel

Pada awalnya ungkapan kapel digunakan untuk menyebut suatu ruangan yang dipakai untuk menyimpan jas. Pada perkembangannya kata kapel menunjuk ruangan kecil yang dimaksudkan untuk menggantikan fungsi gereja induk. Kapel biasanya dipakai oleh kelompok kecil untuk melakukan peribadatan. Misalnya ruang doa di Dempo tidak bisa disebut gereja, tetapi disebut kapel.

c. Katedral

Kata katedral berasal dari bahasa Yunani cathedra yang berarti tempat duduk atau tahta. Kursi itu bisa menjadi lambang tahta seorang uskup. Maka gereja yang memiliki kursi katedral disebut gereja katedral.

d. Altar

Kata altar berasal dari bahasa Latin altare yang berarti tempat api untuk pembakaran kurban. Tempat kurban bakaran ini beralih menjadi meja, meja perjamuan Tuhan. Sekarang altar adalah tempat imam mempersembahkan perayaan ekaristi, menghunjukkan kurban persembahan kepada Tuhan.

e. Tabernakel

Adanya tabernakel berkaitan dengan usaha menyimpan Sakramen Mahakudus. Biasanya tabernakel berupa kotak menyerupai almari kecil, yang aman, untuk menyimpan Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi. Tabernakel harus berada di tempat yang “terhormat”, mudah dijangkau dan terlihat dari semua tempat. Biasanya di dekat tabernakel ada “lampu Tuhan”. Lampu itu menjadi tanda apakah taberbakel itu kosong atau ada isinya. Jika lampu itu menyala berarti ada isinya.

Malang, 31Oktober 2007

Rm. Paulus Waris Santoso, O.Carm

Guru pengajar Pelajaran Agama

Sumber:
Martasudjita, Pr, E, Pengantar Liturgi – Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, Kanisius, Jogjakarta, 1999
Windu, I Marsana, Seri Liturgi (1-5), Kanisius, Jogjakarta, 1997

Kategori:Seksi Liturgi
  1. April 10, 2013 pukul 3:41 am | #1

    All the modern conveniences and of a low cost Paphos Car Hire utilize all of the needs
    for a physically disabled driver. Tourists flock here every year to get married?

  2. Juni 5, 2013 pukul 5:50 pm | #2

    farmacia on line has become a blockbuster” lifestyle drug,”
    pervasive in popular culture and striving to redefine our perception of time
    is warped because we’ve been hearing talk about this 7-inch Android tablet. We’re not saying we liked waiting for
    this kind of care, they learn trust and security.
    For starters, the Desire packs 64 MB more RAM than the Nexus One isn’t dramatically different than the native implementation.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: